Jakarta - "Air adalah darah, hutan adalah rambut, tanah adalah daging, batu adalah tulang."
Begitulah filosofi Aleta Baun, aktivis lingkungan asal Desa Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tentang tanah, air, batu dan hutan sebagai jati diri orang Mollo di Nusa Tenggara Timur.
Kegigihan pejuang lingkungan yang juga seorang ibu bersahaja, menginspirasi Dharma Wanita Persatuan Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (DWP Dukcapil Kemendagri) untuk berjuang bagi keluarga dan lingkungannya.
"Melalui Ibu Aleta kita sebagai Ibu-ibu DWP Dukcapil banyak belajar meskipun secara online tentang kegigihan perjuangan seorang Ibu yang akhirnya diakui secara internasional berkat perjuangan damai dengan cara mengajak masyarakat menenun untuk menentang penambangan ilegal. Perjuangannya bukan hanya berguna buat keluarga tetapi juga bagi masyarakat dengan mengajak umat manusia menghargai bumi dan penghuninya," tutur Ketua DWP Dukcapil Kemendagri Ibu Ninuk Triyanti memberikan wejangan.
Pertemuan rutin DWP Dukcapil kali ini dilaksanakan secara daring lewat aplikasi Zoom sekaligus menggelar Webinar Peran Perempuan Era Milenial dengan menghadirkan mama Aleta Baun sebagai pembicara pada Jumat (26/2/2021).
Saat berusia 30 tahun, mama Aleta, begitu Aleta Baun akrab disapa, sudah berjuang menolak keberadaan perusahaan tambang. Dia menolak bukan tanpa alasan. Sebab sejak pemda mengizinkan dua perusahaan penambangan batu alam pada 1994-1995, masyarakat sulit menemukan air bersih. Padahal, sebelum itu masyarakat dengan mudah mendapatkan air bersih.
Pada 1999, anak petani miskin ini diam-diam bertemu para tetua adat di malam hari. Mama Aleta berhasil meyakinkan para sesepuh kampung dari suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo, bahwa masyarakat tidak meraih apapun dari kegiatan penambangan.
Tekad mama Aleta dan masyarakat menolak keberadaan perusahaan tambang di kampungnya sudah bulat, tidak ada yang bisa menghentikan kecuali perusahaan harus keluar dari kampungnya. Namun kendati didukung para sesepuh adat, dirinya tidak lepas dari tekanan dan tindakan kekerasan dari pendukung keberadaan tambang.
Hebatnya, Ibu tiga anak ini menemukan ide protes yang berciri lokal, yakni tanpa kekerasan melainkan ia bersama mama lainnya menenun di celah-celah bukit batu yang hendak ditambang. Sejak pagi hingga pukul empat sore para ibu rumah tangga menenun beramai-ramai di tempat itu. Lalu malamnya para suami tidur di celah batu yang didirikan tenda.
Warga suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo menganggap bumi sebagai lambang dari tubuh manusia. Bumi membutuhkan selimut yang membungkus permukaannya. Jika selimut itu dikelupas, bumi akan dingin di malam hari, dan panas di siang hari.
"Saat bumi ditelanjangi, maka para mama harus menenun untuk menunjukkan jangan telanjangi bumi kami. Jangan kasih telanjang perempuan, karena yang membungkus bumi ini adalah kami. Jadi idenya dari sini," cerita mama Aleta.
Motif kain tenun yang dihasilkan para mama pun beragam, kebanyakan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Dalam kain tenun ada simbol hutan, wilayah kepemilikan hak ulayat di sekitar kawasan hutan.
Akhirnya aksi ini mendapat simpati dari masyarakat. Satu tahun beraksi, ampuh menghadang para pekerja tambang untuk bekerja sehingga perusahaan meninggalkan tanah Mollo. [Sumber: Tirto.id] Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.