Jakarta - Berbahagialah para dokter dan pasien rumah sakit di seluruh Indonesia. Kelak seluruh layanan rumah sakit di Indonesia bakal terintegrasi. Medical record atau riwayat penyakit akan terdata dengan baik, dan saling terkoneksi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Imajinasi dalam benak Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh ini bukan hal yang tak mungkin diwujudkan. Apalagi Dukcapil mengelola bigdata lebih dari 266 juta penduduk RI yang terus dibangun kelengkapan data dan akurasinya.
"Imajinasi saya itu begini, yakni kita bisa membuat integrated hospital, rumah sakit yang terintegrasi di seluruh Indonesia. Jika ada pasien sakit di RS Dr Soetomo Surabaya kemudian hendak pindah rawat katakanlah di RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo tidak perlu daftar lagi karena nomor induk kependudukan (NIK) dan medical record-nya langsung bisa diketahui. Dan ini hanya boleh diakses oleh orang yang khusus diberi otorisasi, sehingga data pasien tetap masuk dalam perlindungan rahasia data pribadi," papar Prof Zudan di sela Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Ditjen Dukcapil Kemendagri dengan Dirut Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan tentang Pemanfaatan NIK, Data Kependudukan, dan KTP elektronik di kantor pusat Kemenkes, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Zudan berharap suatu saat nanti di seluruh Indonesia Kemenkes akan memiliki data penyakit nasional. Misalnya, di Papua ranking pertama penyakit terbanyak adalah malaria, TBC, sakit kulit. Ini akan diketahui detil teknis sampai ke tingkat desa.
Melalui fasilitas portal Geographic Information System (GIS), yaitu peta interaktif data kependudukan yang dibuat oleh Ditjen Dukcapil.
"Mungkin kita harus mulai mendeteksi jenis penyakit sampai ke tingkat puskesmas di desa-desa. Jenis penyakitnya apa, dan ditangani di puskesmas mana. Dukcapil dan Kemenkes bisa berkolaborasi untuk mewujudkan hal ini," kata Zudan
Sebagai dasar, Dukcapil sudah punya data GIS. Tinggal klik https://gis.dukcapil.kemendagri.go.id/peta/.
Bila diklik akan tersaji peta 34 provinsi seluruh Indonesia. Nah, pada setiap provinsi akan terbaca lengkap masing-masing jumlah kabupaten atau kota sampai jumlah kecamatan, desa, kelurahan. Data lain yang tersaji dalam GIS adalah jumlah penduduk, luas wilayah, dan jumlah kepala keluarga, jenis pekerjaan, sampai golongan darah.
"Sehingga kalau rumah sakit membutuhkan golongan darah resus tertentu A+, A-, O+, O- itu pasti ada sampai ke tingkat desa. Kami membagi layer-nya mulai dari provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, sampai ke tingkat kelurahan/desa," jelas Zudan.
Data ini nantinya bisa dikembangkan, misalnya tentang jenis penyakit tertentu paling banyak di provinsi sampai di tingkat desa sehingga setiap penyakit bisa dipetakan penyebarannya berdasarkan rujukan penduduk yang berobat di puskesmas. "Ini bisa dimulai dari puskesmas yang sudah online, katakanlah Puskesmas di Desa Srimulyo, Sleman, jenis penyakit yang banyak muncul di sana apa."
"Begitu juga bisa ditambahkan data cause of dead orang yang meninggal dunia disebabkan karena apa? Sehingga negara bisa turun lebih cepat. Kalau ada kekurangan obat di daerah tertentu langsung bisa terdeteksi. Inilah yang saya sebut integrated hospital," ujar Zudan rinci menjelaskan.
Dukcapil dan Kemenkes bisa menyusun data ini. Seperti dengan OJK dan BI terkait data nasabah. Sehingga kalau dibuka NIK seseorang akan terbuka datanya dia pernah sakit apa, dirawat di RS mana, dan bagaimana riwayat penyakitnya. Memakai fasilitas BPJS Kesehatan atau tidak, sehingga beban BPJS-Kes akan kelihatan.
"Mudah-mudahan kita Dukcapil dan Kemenkes mewujudkan imajinasi ini," kata Prof Zudan sepenuh yakinnya. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.