Jakarta - Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri mencatat berbagai nama unik yang terdaftar di sistem Administrasi Kependudukan (Adminduk) di Indonesia. Salah satunya adalah tren nama-nama yang terinspirasi oleh pandemi Covid-19 dan peristiwa nasional, yang tidak hanya mengundang senyum, tetapi juga menceritakan sejarah di balik pemberian nama tersebut.
Plh. Dirjen Dukcapil, Handayani Ningrum, menyatakan bahwa fenomena ini menggambarkan kreativitas tanpa batas masyarakat Indonesia.
“Di Ditjen Dukcapil, kami mencatat berbagai nama yang unik dan tak jarang lucu. Ini bukan hanya sekadar nama, tetapi kisah yang melekat pada setiap keluarga. Nama-nama ini mencerminkan harapan orang tua, situasi yang terjadi saat kelahiran, hingga rasa cinta pada negara," ujar Handayani, pada Senin (27/1/2024).
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Ni Ketut Citra Covida Karantina, nama ini seakan membawa kita kembali pada masa-masa karantina di puncak pandemi.
Handayani menjelaskan bahwa nama ini memperlihatkan bagaimana orang tua berusaha mengabadikan momen sejarah dunia melalui nama anak mereka. "Ini adalah bukti bagaimana setiap peristiwa besar, termasuk pandemi, dapat berpengaruh hingga ke dalam hal-hal yang paling personal, seperti nama anak," kata Handayani.
Selain itu, nama Covid Hidayat juga telah tercatat di sistem kependudukan Ditjen Dukcapil. Meskipun terdengar aneh di telinga banyak orang, Handayani melihat sisi positif dari nama tersebut. "Nama ini menunjukkan bagaimana orang tua berusaha mengambil hikmah dari situasi yang sulit. Dengan menambahkan kata Hidayat, mereka berharap anak ini akan membawa berkah dan petunjuk di tengah tantangan," jelas Handayani.
Tidak hanya itu, nama Muhammad Caesar Al Covid juga menonjol sebagai salah satu nama yang unik. Kombinasi antara "Muhammad" dan elemen modern seperti "Caesar" serta "Covid" menciptakan nama yang sangat menarik.
Selain nama-nama yang terkait dengan pandemi, Ditjen Dukcapil juga mencatat nama-nama yang sangat nasionalis, seperti Mohammad Akbar Republik Indonesia Anshori. Menurut Handayani, ini adalah salah satu bukti betapa kuatnya rasa cinta orang tua terhadap negaranya.
Nama-nama nasional lainnya yang tercatat antara lain Benteng Republika, Muhammad Rufi Republik Indonesia, hingga Raden Nakulo Republik Indonesia 1 Sakti Aji dan Raden Sadewo Republik Indonesia 2 Sakti Aji.
“Bisa dibayangkan, ketika kedua bersaudara Raden Nakulo dan Raden Sadewo dipanggil dengan nama lengkap mereka. Pasti akan sangat keren,” ujar Handayani sembari tersenyum.
Handayani juga mengatakan bahwa meskipun nama-nama ini terdengar lucu dan unik, mereka tetap tercatat secara sah di sistem administrasi kependudukan dan akan menjadi bagian dari sejarah keluarga masing-masing.
"Ini adalah bagian dari keanekaragaman budaya dan kreativitas masyarakat Indonesia. Nama-nama ini tidak hanya mencerminkan pribadi anak, tetapi juga bagaimana keluarga mereka memandang dunia," jelas Handayani.
Ditjen Dukcapil, melalui sistem administrasi kependudukannya, selalu siap melayani masyarakat dengan berbagai keunikan yang ada. Handayani menekankan bahwa setiap nama yang tercatat di Dukcapil adalah bukti nyata dari kekayaan budaya dan kreativitas bangsa.
“Tidak ada nama yang terlalu unik untuk kami catat. Justru ini menjadi warna tersendiri dalam sistem kami, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari kisah setiap individu di Indonesia,” tutup Handayani.
Dengan fenomena ini, Ditjen Dukcapil terus menjadi saksi dari ragam kreativitas yang muncul di masyarakat, menjadikannya bagian dari sejarah administrasi kependudukan Indonesia. Nama-nama ini, baik yang lucu maupun sarat makna, adalah simbol dari semangat zaman dan kisah unik di balik kelahirannya. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar