Jakarta - Sejak lahir sampai meninggal dunia penduduk Indonesia dilayani oleh Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri. Mulai dari mengurus akta kelahiran, Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak, KTP-el, akta nikah dan seterusnya hingga akta kematian.
Menurut Dirjen Dukcapil Prof. Zudan Arif Fakrulloh, selama ini layanan Dukcapil bersifat monopolistik. Artinya, urusan layanan administrasi kependudukan (Adminduk) tidak bisa diurus oleh pihak swasta.
"Kalau rumah sakit A jelek pindah ke rumah sakit B. Nah, walaupun Dukcapil jelek masyarakat tetap datang. Tapi setelah itu akan memaki-maki. Maka itu menjadi pemicu bagi kami untuk terus berbenah dengan terus melakukan inovasi," tutur Prof. Zudan di sela acara penandatanganan komitmen pembangunan Mal Pelayanan Publik (MPP) oleh 48 kepala daerah disaksikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo, di Kantor Kementerian PANRB, Jakarta, Selasa (10/3/2020).
Inovasi dimulai dengan hal yang paling mudah terlebih dahulu. "Lakukan dengan SDM yang sudah ada, uangnya tersedia, piranti sarana prasananya ada. Optimalkan semuanya. Syukur-syukur bisa membuat hal yang benar-benar baru. Sehingga bisa mengungkit lompatan perubahan," kata Zudan.
Zudan menyebutkan setidaknya ada 7 inovasi yang dilakukan bertahap oleh jajaran Dukcapil dari tahun 2015. Antara lain dengan membuat layanan terintegrasi. Dulu mengurus KTP keluar KTP. Urus KK keluar KK.
"Sekarang urus KTP bisa dapat 3 bahkan sampai 6 dokumen lainnya. Membuat akta kematian keluar KK baru, keluar KTP-el baru. Yang non muslim menikah di Dukcapil dapat akta nikah, dua KTP-el baru status menikah, dapat tiga KK baru untuk pasangan menikah dari keluarga orangtua masing-masing. Inilah layanan terintegrasi," kata Zudan merinci.
Kemudian inovasi tanda tangan elektronik (TTE) menggantikan cap tanda tangan basah mulai berlaku di 2019. Implikasinya pejabat Dukcapil bisa bekerja dari manapun kapan pun. Kantor Dukcapil bisa berada di mana saja asalkan ada wifi ada gadget. "Di manapun tidak terbatas tempat dan waktu, pejabat Dukcapil bisa menandatangani semua dokumen kependudukan dengan TTE."
Berikutnya pemanfaatan data kependudukan. Sudah ada 2.079 lembaga yang bekerja sama mengakses data Dukcapil yang memuat data 267 juta penduduk. Semuanya masing-masing terdiri dari 31 elemen data.
Kemudian puncaknya adalah inovasi Anjungan Dukcapil Mandiri yang cara kerjanya mirip ATM.
"Kalau ATM pencet tombol keluar uang, ini ADM pencet tombol keluar dokumen kependudukan seperti KTP-el, KK, KIA, akta kelahiran dan seterusnya," kata Prof. Zudan bangga. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.