Banda Aceh — Banjir yang melanda Aceh beberapa waktu lalu bukan hanya merendam rumah dan sawah, tapi juga menyapu bersih dokumen-dokumen penting milik warga. KTP-el, KK, hingga akta kelahiran hanyut bersama arus. Di tengah rasa cemas itu, hadir tim Dukcapil Kementerian Dalam Negeri membawa harapan baru.
Selama tiga hari, 13–15 Januari 2026, Tim Jemput Bola Administrasi Kependudukan bergerak cepat ke Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang, bahkan Aceh Utara. Mereka tidak menunggu warga datang ke kantor, melainkan turun langsung ke posko pengungsian dan desa-desa terdampak. Layanan jemput bola ini membuat warga bisa kembali memegang dokumen identitas yang hilang.
Di Posko Pengungsian Desa Sukajadi, Aceh Tamiang, seorang ibu tak kuasa menahan air mata saat menerima KTP-el barunya. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa tenang. Anak-anak saya bisa sekolah lagi tanpa khawatir,” tuturnya dengan suara bergetar.
Di Aceh Timur, seorang ayah tersenyum lega ketika akta kelahiran anaknya kembali di tangan. “Ini bukan hanya kertas, tapi masa depan anak saya,” katanya penuh haru.
Selama tiga hari pelaksanaan layanan jemput bola di tiga wilayah Aceh, hasilnya benar-benar terasa nyata bagi masyarakat. Di Aceh Timur, tercatat sebanyak 2.426 dokumen kependudukan berhasil diterbitkan.
Sementara itu, di Kota Langsa, tim Dukcapil melayani warga dengan total 1.381 dokumen yang kembali mereka miliki. Tak kalah penting, di Kabupaten Aceh Tamiang, pelayanan di kantor Dukcapil dan posko pengungsian menghasilkan 1.259 dokumen baru yang menggantikan dokumen warga yang hilang atau rusak akibat banjir.
Jika dijumlahkan, seluruh rangkaian pelayanan di tiga daerah tersebut mencapai 5.066 dokumen kependudukan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa ribuan warga Aceh kini kembali memiliki identitas resmi untuk melanjutkan hidup, mengakses bantuan, dan menata masa depan dengan lebih tenang.

Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menegaskan bahwa kehadiran timnya adalah bentuk nyata kepedulian negara. “Kami datang bukan sekadar mencetak dokumen, tapi untuk mengembalikan rasa aman warga. Identitas adalah pegangan hidup, dan negara wajib menjaganya,” ujarnya.
Dirjen Teguh menambahkan, “Setiap dokumen yang kami serahkan adalah tanda bahwa warga tidak sendirian. Negara ada bersama mereka, bahkan di tengah bencana.”
Secara terpisah Sekretaris Daerah Provinsi Aceh, Muhammad Nasir menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, di saat sulit, Dukcapil hadir membawa kepastian. Kehadiran ini memberi semangat bagi masyarakat kami untuk bangkit,” kata Nasir.
Layanan jemput bola Dukcapil di Provinsi Aceh bukan sekadar pemenuhan administrasi kependudukan. Di balik setiap dokumen yang diserahkan, ada senyum yang kembali merekah, ada rasa aman yang pulih, dan ada harapan yang tumbuh. Dengan identitas yang kembali dimiliki, warga terdampak banjir bisa melanjutkan hidup, mengakses bantuan, dan menata masa depan dengan lebih percaya diri. Dukcapil***

Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar