Jakarta — Di tengah gegap gempita pembicaraan soal sistem terintegrasi, identitas digital, dan basis data nasional, ada satu hal yang kerap luput dari sorotan. Siapakah di balik setiap lembar KTP elektronik yang tercetak, setiap akta kelahiran yang terbit, setiap aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) yang berhasil, selalu ada seorang petugas yang duduk di depan layar, melayani satu per satu warga yang datang membawa harapan sederhana: diakui dan dicatat oleh negaranya.
Teknologi secanggih apa pun, pada akhirnya, tetap membutuhkan tangan manusia untuk menjalankannya. Itulah yang menjadi fokus kerja Direktorat Bina Aparatur Kependudukan dan Pencatatan Sipil (BAKPS), unit yang bertugas memastikan ribuan aparatur Dukcapil di seluruh Indonesia—dari petugas loket di kecamatan terpencil hingga operator sistem di ibu kota provinsi—benar-benar siap menghadapi perubahan zaman yang bergerak begitu cepat. "Warga boleh mengurus dokumennya lewat aplikasi, lewat sistem yang serba otomatis. Tapi begitu ada kendala, begitu ada pertanyaan, begitu ada kasus yang tidak sesuai prosedur baku, yang mereka hadapi tetap manusia. Karena itu, secanggih apa pun teknologi kita, aparatur tetap menjadi penentu apakah layanan itu benar-benar dirasakan baik oleh warga atau tidak," ujar Direktur BAKPS Erliani Budi Lestari, di Jakarta, Senin (17/8/2026), di hari yang sama ketika HUT Kemerdekaan ke-81 RI diperingati dengan hikmat oleh penduduk negeri.
Talenta digital
Perjalanan panjang Dukcapil dari sistem pencatatan manual menuju era digital, kata Erliani, sesungguhnya adalah penjelajahan untuk mengubah kompetensi manusianya juga. Petugas yang dulu terbiasa menulis dengan tangan di buku register, kini dituntut memahami sistem informasi terintegrasi, memahami keamanan data, bahkan memahami cara kerja aplikasi berbasis biometrik untuk keperluan seperti aktivasi IKD. "Dulu, yang dibutuhkan petugas Dukcapil itu ketelitian menulis dan mengarsipkan. Sekarang kompetensinya jauh lebih kompleks. Mereka harus paham sistem, paham keamanan data, paham cara berkomunikasi dengan warga yang belum tentu familier dengan teknologi. Ini bukan transformasi kecil," jelas Erliani.
Karena itu, direktorat yang dipimpinnya terus mendorong peningkatan kompetensi aparatur secara menyeluruh, bukan sekadar pelatihan teknis rutin, melainkan perubahan pola pikir yang lebih mendasar. Dari sekadar menjalankan tugas administratif menuju sosok yang benar-benar memahami teknologi sekaligus tetap peka terhadap kebutuhan warga yang dilayaninya. "Kami menyebutnya transformasi menuju talenta digital. Bukan berarti semua orang harus jadi programmer, tapi setidaknya mereka harus melek teknologi, mengerti cara kerja sistem yang mereka pakai sehari-hari, dan tidak gagap ketika ada perubahan," katanya.
Tata kelola SDM vs data
Selama ini, perhatian publik terhadap Dukcapil kerap tertuju pada sistem, data, dan infrastruktur teknis. Padahal, menurut Erliani, tata kelola sumber daya manusia sesungguhnya sama pentingnya, bahkan menjadi penentu apakah seluruh investasi teknologi yang sudah dibangun bisa benar-benar berjalan optimal atau justru mangkrak karena tidak ada yang mampu mengoperasikannya dengan baik.
Untuk itu, BAKPS memperkuat tata kelola SDM di lingkungan Dukcapil, mulai dari perencanaan kebutuhan pegawai, pemetaan kompetensi, hingga penempatan aparatur sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan daerah masing-masing. Sebab, tantangan yang dihadapi petugas Dukcapil di kota besar dengan infrastruktur memadai tentu berbeda jauh dengan yang dihadapi petugas di daerah terpencil, di mana akses internet saja kadang masih menjadi persoalan. "Kami tidak bisa menyamaratakan semua daerah. Karena itu penguatan kapasitas ini harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, supaya transformasi digital ini benar-benar merata, tidak hanya dirasakan daerah yang sudah maju lebih dulu," ujar Erliani.
Integritas, bukan hanya kompetensi
Selain soal kemampuan teknis, Erliani menekankan bahwa profesionalisme dan integritas aparatur menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari seluruh upaya transformasi ini. Data kependudukan menyangkut informasi paling pribadi dari setiap warga negara, mulai dari status keluarga, riwayat pernikahan, hingga catatan kematian. Di tangan yang tidak berintegritas, data sepenting itu bisa disalahgunakan, dan kepercayaan publik yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu kesalahan. "Kompetensi teknis penting, tapi tanpa integritas, itu bisa jadi bumerang. Kami terus menanamkan kepada seluruh aparatur bahwa data yang mereka pegang itu menyangkut nasib dan hak orang lain. Bukan sekadar angka di layar komputer," katanya.
Karena itu, setiap perubahan teknologi yang diterapkan di lingkungan Dukcapil, menurut Erliani, harus selalu diikuti dengan perubahan cara kerja dan mentalitas aparatur. Sistem boleh berganti, aplikasi boleh diperbarui, tetapi jika cara berpikir dan cara melayani petugasnya tidak ikut berubah, maka seluruh investasi teknologi itu hanya akan berhenti sebagai alat yang tidak dimanfaatkan sepenuhnya.
Wajah kemerdekaan di balik loket
Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, kemerdekaan yang dirasakan warga lewat identitas dan pelayanan administrasi kependudukan sesungguhnya tidak pernah lepas dari peran manusia-manusia yang bekerja di baliknya. Warga yang datang mengurus akta kelahiran anaknya, yang mengaktifkan IKD lewat ponselnya, atau yang sekadar bertanya soal kelengkapan berkas KTP-el, pada akhirnya tetap berhadapan dengan seorang petugas manusia, bukan layar dan algoritma.
Bagi Erliani, di situlah letak makna sesungguhnya dari kerja yang dijalankan direktoratnya. Kemerdekaan yang dirasakan warga lewat kepastian identitas dan pelayanan yang baik, sesungguhnya bergantung pada seberapa siap dan seberapa berintegritasnya aparatur yang melayani mereka setiap hari. "Teknologi itu alat. Yang membuat alat itu berarti bagi warga adalah manusianya, aparatur yang bekerja dengan hati, yang paham bahwa di balik setiap dokumen yang mereka terbitkan, ada kehidupan seseorang yang menunggu diakui oleh negaranya," tutup Erliani. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar