Pota — Jalan tanah bergelombang dan tebing rawan longsor tak menyurutkan langkah rombongan tim tanggap bencana. Tujuh jam perjalanan darat yang melelahkan harus ditempuh dari pusat kabupaten menuju Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (25/8/2026).
Sambi Rampas menjadi salah satu wilayah terpukul paling parah saat guncangan gempa meluluhlantakkan kawasan pesisir utara Flores tersebut. Di wilayah yang berpenduduk 16.197 jiwa ini, suasana duka dan kecemasan masih amat terasa. Sebanyak 13.564 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang rusak dan kini hidup menumpuk di tenda-tenda pengungsian darurat. Data posko mencatat bencana ini menelan korban jiwa sebanyak 6 orang meninggal dunia, 38 orang luka berat, dan 41 orang mengalami luka ringan.
Di tengah bayang-bayang trauma dan ancaman guncangan susulan, tim gabungan Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri bersama Dinas Dukcapil Kabupaten Manggarai Timur hadir bergerak cepat. Mereka tidak hanya membawa mesin cetak dan dokumen, tetapi juga kehangatan kemanusiaan di tempat pengungsian.

Ketua Tim Kerja Wilayah III Ditjen Dukcapil Kemendagri, Zefanya Jocom, yang memimpin langsung tim bergerak ke Pota, menegaskan bahwa ketidakhadiran dokumen identitas diri sering kali memperpanjang penderitaan penyintas bencana. "Setibanya di Pota, kami langsung berkoordinasi dengan Camat Sambi Rampas untuk merumuskan tata laksana pelayanan yang fleksibel. Warga yang mengungsi tidak boleh terhambat menerima bantuan kemanusiaan hanya karena KTP-el atau Kartu Keluarga mereka tertimbun reruntuhan," ujar Zefanya saat memberikan keterangan di posko lapangan.
274 Dokumen Terbit di Tengah Gempa Susulan
Pelayanan adminduk gabungan dimulai dari pukul 09.00 hingga pukul 01.30 WITA dini hari bertempat di Posko Tembalajar, Desa Nanga Mbaur. Pemohon layanan adminduk merupakan warga pengungsi posko tersebut, dan juga warga sekitar Kecamatan Sambi Rampas. Kondisi di lapangan penuh tantangan. Kendati gempa susulan berkekuatan M 4,7 masih terus mengguncang kawasan Sambi Rampas pada Selasa malam pukul 22.30 WITA dan Rabu dini hari pukul 04.24 WITA, petugas tetap bertahan menjalankan alat perekaman dan pencetakan dokumen kependudukan.

Selama dua hari pelayanan maraton di Manggarai Timur, tim berhasil menerbitkan total 274 dokumen kependudukan. Pada pelayanan hari pertama, Senin (24/8/2026), diterbitkan 86 lembar Kartu Keluarga, 53 keping KTP-el, 22 Kutipan Akta Kelahiran, 12 perekaman KTP-el baru, 4 Akta Kematian, serta 3 aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Pelayanan berlanjut pada Selasa (25/8/2026) di Pota dengan memproduksi 44 keping KTP-el, 23 KK, 15 perekaman KTP-el baru, 11 Akta Kelahiran, dan 1 aktivasi IKD.
Menariknya, penyerahan dokumen kependudukan yang sudah jadi dilakukan secara langsung oleh petugas ke tangan para pengungsi di tenda-tenda, dirangkaikan dengan pembagian makanan ringan dan kudapan untuk anak-anak serta warga terdampak.

Bergeser menjangkau Lamba Leda Utara
Kabid Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Kabupaten Manggarai Timur, Hendrikus Bakal, yang terus mendampingi tim Dukcapil pusat menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan pendampingan tak kenal lelah dari jajaran Ditjen Dukcapil Kemendagri di daerahnya. Menurutnya, sinergi ini memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang sedang dilanda ketidakpastian. "Pendampingan dari Tim Ditjen Dukcapil membawa dampak yang sangat nyata. Saat warga kehilangan tempat tinggal, kepastian identitas diri yang kami serahkan di tenda pengungsian menjadi penanda bahwa negara tetap hadir mendampingi mereka. Kami tidak berhenti di Sambi Rampas," tegas Hendrikus.
Setelah merampungkan sisa pelayanan di Pota pada Rabu (26/8/2026) siang, tim tanggap bencana pimpinan Zefanya dijadwalkan segera memindahkan posko pelayanan bergerak menuju Kecamatan Lamba Leda Utara, menyisir wilayah terdampak di jalur yang mengarah ke Ruteng. Melalui layanan jemput bola ini, secarik kertas akta dan kepingan KTP-el bukan lagi sekadar angka statistik kependudukan, melainkan jembatan harapan bagi ribuan pengungsi di Manggarai Timur untuk kembali menata masa depan mereka pascabencana. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar