Jakarta — Bagi sebagian besar orang, ulang tahun datang setiap tahun. Namun tidak demikian bagi 129.439 penduduk Indonesia yang tercatat lahir pada 29 Februari. Tanggal itu hanya muncul setiap empat tahun sekali pada kalender Masehi. Mereka yang lahir pada tanggal tersebut dikenal sebagai leapling, atau anak kabisat.
Angka itu terungkap dalam Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester I Tahun 2026 yang dipaparkan Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi dalam rangkaian Rakornas Dukcapil dan Rilis DKB Semester I Tahun 2026 yang dibuka dan diresmikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Birawa Assembly Hall, Menara Bidakara 2, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Teguh mengatakan, data kependudukan tidak berhenti pada angka jumlah penduduk. Di dalamnya tersimpan beragam cerita tentang masyarakat Indonesia, termasuk hal-hal yang tampak sederhana seperti nama dan tanggal lahir. "Yang menarik, ada lebih dari 129 ribu penduduk kita yang tidak pernah ulang tahun, adanya empat tahun. Ulang tahunnya empat tahun sekali, karena dia lahir di tanggal 29 Februari," tutur Teguh menerangkan, "Angka itu mungkin terdengar kecil dibandingkan total penduduk Indonesia yang kini menembus 290,1 juta jiwa. Tetapi bagi para leapling itu, angka tersebut adalah penanda sebuah nasib kalender yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang."
Ulang Tahun yang Datang Terlambat
Coba bayangkan menjadi salah satu dari mereka. Setiap tahun, saat teman-teman sebaya merayakan hari lahir dengan kue dan lilin yang jumlahnya bertambah satu, seorang leapling justru harus menunggu kadang tiga tahun penuh, sebelum tanggal aslinya benar-benar kembali muncul di kalender. Di tahun-tahun biasa, mereka pada akhirnya harus berkompromi. Sebagian merayakan pada 28 Februari, atau menggesernya ke 1 Maret, tergantung kebiasaan keluarga masing-masing. Baru ketika tahun kabisat datang lagi, mereka bisa merayakan ulang tahun pada tanggal yang sesungguhnya tertulis di akta kelahiran.
Ada logika sederhana yang membuat fenomena ini terjadi. Kalender Masehi menambahkan satu hari ekstra setiap empat tahun untuk mengoreksi selisih antara panjang tahun kalender dan panjang waktu sesungguhnya yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari. Hari tambahan itu diselipkan di penghujung Februari, dan siapa pun yang kebetulan lahir pada hari itu, mau tidak mau, mewarisi ulang tahun yang berjalan pada ritme berbeda dari mayoritas manusia lainnya.

Data Kependudukan yang Menyimpan Cerita Personal
Bagi Ditjen Dukcapil, temuan tentang penduduk kelahiran 29 Februari ini mengemuka justru dari proses yang sangat teknis, yaitu pembersihan dan penunggalan data kependudukan nasional. Namun di balik proses administratif itu, tersimpan cerita yang jauh lebih personal—tentang bagaimana identitas seseorang, sesuatu yang seharusnya sesederhana tanggal lahir, ternyata bisa membawa keunikan tersendiri yang mengikuti seseorang seumur hidup.
Fenomena ini juga menjadi pengingat kecil tentang betapa pentingnya ketelitian pencatatan sipil. Sebuah tanggal yang hanya "sah" muncul sekali dalam empat tahun, rentan menimbulkan kebingungan administratif, mulai dari pengisian formulir daring yang kadang menolak tanggal 29 Februari di tahun-tahun biasa, hingga penghitungan usia yang harus disesuaikan secara manual oleh sejumlah sistem. "Di sinilah data kependudukan yang akurat menjadi krusial, bukan hanya untuk kepentingan statistik negara, tetapi juga untuk memastikan setiap warga negara, termasuk yang lahir pada hari langka sekalipun, mendapatkan pengakuan identitas yang sama persis dengan penduduk lainnya," kata Teguh.
Keunikan yang Tak Berdiri Sendiri
Temuan tentang penduduk kelahiran 29 Februari ini muncul bersamaan dengan sejumlah fakta unik lain dari hasil pembersihan data kependudukan, termasuk soal huruf awal nama yang paling jarang digunakan penduduk Indonesia. Seperti nama yang dimulai dari huruf "X", hanya dipakai 28.980 orang--hingga huruf "U" yang disandang 2.440.515 orang. Sekilas tampak seperti detail kecil yang remeh, namun temuan-temuan semacam ini justru menunjukkan sesuatu yang lebih besar, bahwa di balik satu basis data kependudukan nasional yang sama, tersimpan ratusan juta kisah individu yang masing-masing punya keunikannya sendiri, termasuk soal kapan sebenarnya mereka boleh bertambah usia.
Bagi 129.439 penduduk yang lahir pada 29 Februari itu, tahun 2026 barangkali adalah salah satu dari tahun-tahun yang harus mereka lalui tanpa tanggal aslinya. Namun ketika 2028 tiba, dan Februari kembali memiliki hari ke-29, mereka akhirnya bisa merayakan ulang tahun yang benar-benar sesuai dengan yang tertulis di akta kelahiran. Inilah sebuah momen yang, bagi kebanyakan orang lain, datang setiap tahun tanpa perlu ditunggu. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar