Ende — Di pelataran terbuka Kantor Dinas Dukcapil Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, deretan kursi plastik ditata berjejer di bawah tenda darurat. Meja kayu panjang berubah fungsi menjadi loket pendaftaran. Meski gedung kantor di belakangnya mengalami kerusakan pada beberapa titik akibat guncangan gempa bumi 15 Agustus 2026 lalu, pelayanan hak dasar warga tak boleh terhenti.
Dari halaman terbuka inilah pemulihan dokumen kependudukan warga diawali. Guncangan gempa dua pekan lalu tidak hanya menyisakan trauma dan merusak rumah warga, tetapi juga merusak fasilitas pelayanan publik.
Di Gedung Dinas Dukcapil Ende, dua unit pendingin ruangan (AC outdoor) rusak, empat unit komputer pelayanan pecah terjatuh, dua unit printer hancur, serta dua tandon air retak tak bisa digunakan. Untuk memastikan pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil tetap berjalan normal, petugas terpaksa memindahkan sebagian loket ke area terbuka di luar gedung.
Demi membantu percepatan pemulihan adminduk pascabencana, Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri menerjunkan tim tanggap bencana yang dipimpin langsung oleh Direktur Bina Aparatur Ditjen Dukcapil, Erliani Budi Lestari. Tim ini tiba di Ende sejak Senin (24/8/2026) dengan memboyong perangkat penunjang serta pasokan blangko KTP elektronik untuk dihibahkan ke daerah.
Rangkaian kegiatan tanggap darurat bencana di Ende dibuka secara resmi melalui pertemuan bersama Pemerintah Kabupaten Ende yang diwakili oleh Asisten I Sekda Kab. Ende, Mohammad Sahab, H.S. Pertemuan tersebut diisi dengan penyerahan simbolis blangko KTP-el dan perangkat pemindaian biometrik guna mendukung aksi jemput bola ke berbagai lokasi terdampak parah.

Gerak cepat di pesisir Nangapanda
Aksi jemput bola hari pertama, Senin (24/8/2026), dimulai di Desa Rapowawo, Kecamatan Nangapanda. Kehadiran tim yang didampingi camat dan kepala desa setempat mendapat sambutan hangat dari warga.
Selama sehari penuh di Desa Rapowawo, tim berhasil melayani 39 perekaman KTP-el baru, menerbitkan 143 Kartu Keluarga (KK), 51 Akta Kelahiran, 17 Akta Kematian, 18 aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), serta 11 Kutipan Akta Perkawinan yang diproses melalui kerja sama lintas lembaga bersama pihak paroki setempat.
Pelayanan berlanjut pada hari kedua, Selasa (25/8/2026), bergeser ke Kelurahan Ndorurea, Kecamatan Nangapanda. Posko darurat pada hari kedua ini ditinjau langsung oleh Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda, dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ende Flavianus Waro. Peninjauan ini mempertegas komitmen lintas sektor dalam menjamin perlindungan hukum perdata masyarakat pascabencana.
Di Kelurahan Ndorurea, tim mencatatkan 61 perekaman KTP-el, pencetakan 215 KTP-el, 177 pencetakan KK, 53 Akta Kelahiran, 25 Akta Kematian, 8 Akta Perkawinan, 20 aktivasi IKD, serta 12 pelayanan pindah datang WNI. Hingga penutupan hari kedua, akumulasi dokumen kependudukan yang diterbitkan telah mencapai 100 perekaman KTP, 215 cetak KTP, 320 KK, 104 Akta Kelahiran, 42 Akta Kematian, 19 Akta Perkawinan, 38 IKD, dan 20 Surat Pindah Datang.

Menjangkau Maurole di tapal batas utara
Misi kemanusiaan ini menembus wilayah geografis yang lebih sulit pada hari ketiga, Rabu (26/8/2026). Tim jemput bola menempuh perjalanan darat sejauh tiga jam dari Kota Ende menuju Kecamatan Maurole, wilayah yang berada di perbatasan paling utara Kabupaten Ende. Kawasan pesisir Maurole ini berjarak sekitar satu jam pelayaran kapal dari Pulau Palue. "Informasi dari Camat Maurole, banyak warga terdampak dari Pulau Palue yang menyeberang menggunakan kapal kayu ke Maurole untuk mengamankan diri sekaligus meminta bantuan sembako dan tenda pengungsian. Karena itu, titik pelayanan hari ketiga ini sangat strategis," ungkap Direktur Erliani.
Melihat tingginya antusiasme warga penyintas dan warga perbatasan yang menyemut di posko Maurole, tim menerjunkan dua perangkat perekaman sekaligus. Hingga Rabu sore, tercatat 87 perekaman KTP-el baru, 86 cetak KTP-el, 59 KK, 9 Akta Kelahiran, dan 5 Akta Perkawinan telah berhasil diselesaikan, sementara ratusan berkas pemohon lainnya masih terus diproses petugas di lapangan.

Terbit 1.104 dokumen dalam tiga hari pelayanan
Berdasarkan rekapitulasi, total hasil jemput bola layanan adminduk Tanggap Bencana Gempa Ende selama tiga hari (24–26 Agustus 2026) adalah sebanyak 1.104 dokumen. Jumlah ini terdiri dari layanan jemput bola di Desa Nangapanda pada hari pertama dan kedua sebanyak 858 dokumen dan layanan hari ketiga di Desa Maurole sebanyak 246 dokumen.
Dalam pandangan Erliani, penanganan adminduk di wilayah bencana Flores memperlihatkan bahwa pemulihan fisik dan tempat tinggal harus berjalan seiring dengan pemulihan status keperdataan. "Kehadiran tim gabungan Ditjen Dukcapil dan Dinas Dukcapil daerah di tengah keterbatasan sarana pascagempa, menjadi bukti bahwa hak warga atas dokumen identitas tetap dijamin negara, kapan pun dan di mana pun bencana melanda," demikian Direktur Bina Aparatur Dukcapil Erliani Budi Lestari. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar