Jakarta — Keberhasilan suatu organisasi mencapai tujuan tentunya merupakan akumulasi dari unsur masing-masing unit kerja di dalamnya. Sehingga, fungsi teknis dan fungsi kesekretariatan dalam suatu organisasi memiliki peran yang sama pentingnya.
Sekretaris Ditjen Dukcapil Hani Syopiar Rustam menjelaskan posisi unit Sekretariat yang dipimpinnya saat ini. "Orang mungkin membayangkan sekretariat itu urusan surat-menyurat dan administrasi semata. Padahal kami juga memastikan mesin besar Dukcapil punya bahan bakar untuk bergerak mulai dari anggaran, SDM, sarana prasarana, sampai regulasi yang menjadi payung semua program," ujarnya, di Jakarta, Senin (17/8/2026), tepat di hari ketika rakyat seantero negeri memperingati HUT Kemerdekaan ke-81 RI dengan penuh hikmat.
Bekerja di balik layar
Bayangkan lima direktorat di Ditjen Dukcapil sebagai lima orang yang bekerja di garis depan. Mulai dari mencatat kelahiran warga, membersihkan data, menjembatani NIK ke berbagai layanan publik, membawa manfaat data sampai ke daerah, dan menyiapkan aparatur yang kompeten. Semua kerja itu, menurut Sesditjen Hani, membutuhkan penopang yang memastikan mereka punya cukup anggaran untuk beroperasi, cukup sumber daya manusia untuk direkrut dan ditempatkan, serta cukup sarana dan prasarana agar pekerjaan di lapangan tidak terhambat oleh hal-hal teknis yang sebetulnya bisa diantisipasi lebih awal. "Kami yang menyusun perencanaan, memastikan regulasi dan tata kelola berjalan sesuai aturan, mengoordinasikan enam unit kerja ini supaya tidak berjalan sendiri-sendiri, sampai mengevaluasi apakah program-program yang sudah dijalankan benar-benar memberi dampak atau tidak," jelas Hani.
Ia mengakui, pekerjaan semacam ini memang tidak terlihat langsung oleh warga. Seorang ibu yang datang mengurus akta kelahiran anaknya tidak akan pernah tahu bahwa di balik loket yang melayaninya, ada proses penganggaran yang memastikan petugas itu digaji, ada perencanaan yang memastikan sistem yang dipakai tidak eror, ada regulasi yang memastikan data anaknya aman tersimpan. "Warga hanya melihat hasil akhirnya. Tapi proses sampai ke sana itu panjang, dan sebagian besar prosesnya justru ada di ranah kami," jelasnya.
Satu tujuan
Perjalanan enam unit kerja di lingkungan Ditjen Dukcapil ini, jika dirangkai kembali, sesungguhnya menceritakan satu alur besar yang saling berkelindan. Direktorat Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil memastikan identitas seorang warga lahir dan tercatat sejak hari pertama. Direktorat PIAK menjaga agar data yang tercatat itu tetap akurat, bersih, dan bisa dipercaya. Direktorat IDKN membawa data tersebut keluar dari Dukcapil, menjembataninya ke berbagai kementerian dan lembaga agar benar-benar berguna dalam pelayanan publik.
Selanjutnya, Direktorat IDKD memastikan manfaat data itu sampai ke daerah, tidak berhenti di Jakarta. Direktorat Bina Aparatur menyiapkan manusia-manusia yang menjalankan seluruh mesin ini dengan kompeten dan berintegritas. Dan Sekretariat, di balik semuanya, menopang agar mesin besar itu tetap bisa bergerak dengan anggaran yang cukup, regulasi yang jelas, dan koordinasi yang rapi. Enam unit kerja itu bekerja pada bidang yang berbeda-beda. Namun ujungnya sama, yakni memastikan negara mengenali setiap warganya, dan mampu memberikan pelayanan berdasarkan identitas yang benar.
Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, mengisi kemerdekaan bagi Ditjen Dukcapil bukan sekadar soal membuat layanan semakin digital, semakin canggih, atau semakin efisien di atas kertas. Namun yang lebih penting, dan barangkali lebih sulit dicapai, adalah memastikan bahwa teknologi, data, dan aparatur yang bekerja di baliknya pada akhirnya membuat negara terasa lebih dekat dengan warganya. Negara hadir bukan hanya saat upacara bendera dikibarkan setahun sekali, tetapi muncul setiap hari, dalam bentuk identitas yang diakui, pelayanan yang bisa diandalkan, dan data yang, pada akhirnya, memastikan tidak ada satu pun warga negara ini yang tertinggal dari haknya sendiri. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar