Jakarta — Kabar baik bagi keluarga yang baru menyambut buah hati. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) resmi meluncurkan integrasi layanan pencatatan kelahiran yang menghubungkan platform SATUSEHAT dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), bertempat di Lobi Utama Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jumat (31/7/2026).
Dengan sistem baru ini, orang tua tak perlu lagi bolak-balik mengurus akta kelahiran anaknya. Begitu bayi lahir dan datanya diinput di rumah sakit, data itu langsung mengalir secara elektronik ke SIAK, dan dari sana Akta Kelahiran serta pembaruan Kartu Keluarga (KK) bisa diterbitkan nyaris seketika. RSAB Harapan Kita tercatat sebagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) pertama di Indonesia yang berhasil menjalankan skema ini—menjadikannya semacam "laboratorium" bagi rencana perluasan layanan serupa ke rumah sakit-rumah sakit lain di seluruh Tanah Air.
Peluncuran ini sengaja dirangkaikan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi mengapresiasi kolaborasi lintas kementerian yang membuahkan hasil konkret ini. "Kelahiran seorang anak tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi keluarga, tetapi juga harus segera diikuti dengan terpenuhinya hak atas identitas hukum. Melalui integrasi SATUSEHAT dan SIAK, proses pencatatan kelahiran dapat dilakukan lebih cepat sehingga Akta Kelahiran dan pembaruan Kartu Keluarga dapat diterbitkan tanpa masyarakat harus melalui prosedur yang berbelit," ujar Teguh.
Secara teknis, begitu SIAK menerima data dari SATUSEHAT, bayi yang baru lahir langsung mendapat akta kelahiran secara real time. Dari situ, rangkaian dokumen lain pun ikut terbit: Kartu Identitas Anak (KIA) lengkap dengan NIK, hingga pembaruan Kartu Keluarga yang mencantumkan nama orang tua dan anggota keluarga baru. Bagi Teguh, dokumen-dokumen itu jauh lebih dari sekadar identitas penduduk. "Dokumen tersebut adalah bentuk kepastian hukum bagi adik bayi untuk mendapatkan pelayanan publik selanjutnya dengan lebih baik. Bukan hanya dalam layanan kesehatan, tetapi juga pendidikan, sosial, ataupun lainnya," katanya.
Ia berharap terobosan ini terus berkembang dan bisa diluncurkan secara nasional pada awal 2027. Tak berhenti di situ, Teguh bahkan melempar wacana agar model serupa diterapkan untuk penerbitan akta kematian secara real time.

Contoh Baik untuk Seluruh Rumah Sakit
Dari sisi Kemenkes, Sekretaris Jenderal Kunta Wibawa Dasa Nugraha menyebut integrasi ini sebagai wujud nyata transformasi digital layanan publik berbasis data kependudukan. "Integrasi ini menjadi implementasi nyata transformasi digital layanan publik nasional berbasis data kependudukan. Ketika data kesehatan dan data kependudukan saling terintegrasi, pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efektif, akurat, dan efisien. Inilah arah transformasi digital yang sedang kita bangun bersama," kata Kunta.
Ia berharap keberhasilan di RSAB Harapan Kita bisa menjadi acuan bagi rumah sakit dan fasyankes lain di seluruh Indonesia untuk mengadopsi sistem serupa, sesuai playbook dan petunjuk teknis yang telah disusun Kemenkes. "Semakin banyak fasyankes yang terhubung dengan SIAK, semakin cepat pula setiap anak Indonesia memperoleh dokumen kependudukan sejak hari pertama kelahirannya," pungkasnya.
Acara peluncuran ini dihadiri jajaran pejabat lintas lembaga, di antaranya Sesditjen Dukcapil Hani Syopiar Rustam, Deputi Bidang Pelayanan Publik KemenPANRB Otok Kuswandaru, Asdep Keterpaduan Layanan Digital Nasional KemenPANRB Adi Nugroho, Direktur Keluarga, Pengasuhan, Perempuan, dan Anak Bappenas Qurrota A'yun, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas Inti Wikanestri, Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto, serta sejumlah pimpinan Kemenkes lainnya seperti Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas dr. Maria Endang Sumiwi, Kapusdatin Eko Sulistijo, Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, dan Direktur Utama RSAB Harapan Kita dr. Reni Wigati.
Sejumlah mitra pembangunan internasional turut hadir memberikan dukungan, antara lain Meera Gurumurthy (Country Lead & Senior Technical Advisor for CRVS Program, Vital Strategies), Jonathan Marskell (Senior Digital Specialist, World Bank), Ivan Pradana (Digital Government Analyst, World Bank), Narwawi Pramudhiarta (Population and Development Programme Specialist, UNFPA), dan Dr. Edit Oktavia Manuama (Technical Officer, Maternal, Newborn and Child Health, WHO).
Kehadiran para mitra internasional ini menegaskan bahwa integrasi SATUSEHAT dan SIAK bukan sekadar proyek dalam negeri, melainkan bagian dari komitmen global untuk membangun sistem pencatatan sipil dan statistik hayati (Civil Registration and Vital Statistics/CRVS) yang modern dan inklusif. Dengan langkah ini, pemerintah berharap setiap anak Indonesia, sejak detik pertama kehidupannya sudah memiliki jaminan identitas hukum yang kelak membuka jalan lebih mulus menuju layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Dukcapil***

Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar