Jakarta — Senja Ramadan hari ke-27, di depan kantor Ditjen Dukcapil Kemendagri, Jakarta, Selasa (17/3/2026) terasa berbeda. Sejumlah pegawai berseragam Korpri berdiri di tepi jalan, menyodorkan paket takjil kepada pengendara motor yang melintas.
Senyum mereka menyambut setiap tangan yang menerima, seolah ingin menegaskan bahwa pelayanan publik bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal kepedulian.
“Ramadan adalah momentum berbagi. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa Dukcapil hadir bukan hanya di balik meja pelayanan, tetapi juga di jalanan, di masjid, bahkan di pesantren,” ujar Indra Fatmawijaya selaku Kasubag TU Pimpinan pada Bagian Umum Setditjen Dukcapil yang memimpin pembagian takjil yang sudah berlangsung sejak awal Ramadan 1447 H.
Gerakan ini tidak berhenti di Jakarta. Di Karawang, pegawai Disdukcapil turun ke kawasan Tugu Padi, membagikan takjil kepada pengguna jalan.
Di Bogor, suasana hangat terasa di sekitar Masjid Baitul Faizin dan Masjid Nurul Wathon, Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, ketika masyarakat yang bersiap berbuka menerima bingkisan sederhana dari tangan para pegawai Dinas Dukcapil.
Di Balikpapan, kebersamaan semakin terasa karena kegiatan dilakukan bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Disdukcapil. “Kami ingin Ramadan menjadi ruang mempererat silaturahmi, bukan hanya antarpegawai, tetapi juga dengan masyarakat,” ungkap Kadis Dukcapil Kota Balikpapan, Tirta Dewi.
Sementara itu, di Tulang Bawang, kegiatan berbagi pernah menyasar Pondok Pesantren Hafizh AL-BAKRIE, menghadirkan suasana penuh syukur di kalangan santri. Di Gorontalo, pegawai Dinsos Dukcapil turut serta membagikan takjil bagi pengendara, menambah semarak Ramadan di wilayah tersebut.
Ramadan, Solidaritas, dan Pelayanan Publik
Istilah Dukcapil Peduli, sejatinya telah lama dikenal masyarakat. Selain berbagi takjil, program ini juga diwujudkan dalam pelayanan jemput bola, seperti perekaman KTP-el bagi lansia, penyandang disabilitas, dan warga berkebutuhan khusus. Di Bontang, Pekanbaru, dan Sidoarjo, program ini menjadi bukti bahwa pelayanan Dukcapil berusaha merangkul semua lapisan masyarakat.
“Bagi kami, berbagi takjil hanyalah simbol. Hakikatnya adalah bagaimana Dukcapil bisa hadir di tengah masyarakat, mendengar, melayani, dan peduli,” kata seorang pejabat Dukcapil daerah.
Gerakan berbagi takjil ini menjadi cermin solidaritas aparatur negara. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menumbuhkan empati. Pegawai Dukcapil, yang sehari-hari bergelut dengan data kependudukan, kini hadir dengan wajah berbeda: Wajah yang menebar senyum, wajah yang mengulurkan tangan, wajah yang ingin memastikan bahwa pelayanan publik terasa manusiawi.
Di balik setiap paket takjil yang dibagikan, tersimpan pesan sederhana: Dukcapil bukan hanya soal mengurus dokumen kependudukan, tetapi juga soal kepedulian. Ramadan 1447 H menjadi saksi pelayanan publik bertransformasi menjadi lebih humanis dan menyentuh hati masyarakat, tidak sekadar menggugurkan kewajiban administratif. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar