Jakarta — Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus memimpin langsung Upacara Hari Lahir Pancasila di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026).
Dalam amanatnya, Wamen Akhmad Wiyagus menyatakan, Pancasila harus dihidupkan dalam kerja nyata birokrasi. “Pancasila bukan hanya ideologi, tetapi pedoman moral dan arah kebijakan. Setiap pelayanan publik, harus mencerminkan nilai keadilan, persatuan, dan kemanusiaan. Dengan begitu, negara hadir melindungi setiap warga tanpa terkecuali,” ujar Wiyagus.
Usai mengikuti upacara, Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menyampaikan sejumlah poin penting tentang kaitan pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Menurutnya, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni yang tahun ini mengangkat tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, menjadi momentum bagi Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri untuk meneguhkan komitmen bahwa pelayanan administrasi kependudukan adalah wujud nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila.
Melalui prinsip “Satu NIK, Satu Identitas untuk Satu Bangsa”, Dukcapil memastikan setiap warga negara memperoleh hak dasar berupa dokumen kependudukan sebagai pintu masuk ke berbagai layanan publik.

Menurut Dirjen Dukcapil, pelayanan administrasi kependudukan adalah bagian dari upaya memperkuat persatuan bangsa. Melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai identitas tunggal, Dukcapil bukan hanya menyatukan seluruh warga dalam satu data kependudukan, tetapi juga meneguhkan fondasi keadilan dan kesetaraan yang menjadi syarat terciptanya perdamaian.
“Ketika setiap warga diakui identitasnya secara sah, maka hak-hak dasar terlindungi, kesenjangan berkurang, dan rasa persaudaraan tumbuh. Inilah kontribusi nyata Dukcapil dalam menjadikan Pancasila bukan hanya pedoman nasional, tetapi juga fondasi perdamaian dunia,” ujar Teguh.
Lebih lanjut, Teguh menerangkan, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya hidup dalam kerja nyata Dukcapil sehari-hari. “Semangat Keadilan Sosial tampak ketika petugas turun langsung ke lapangan, menjemput bola hingga ke pelosok desa, sekolah, rumah sakit, bahkan ke lembaga pemasyarakatan, agar tidak ada satu pun warga yang tertinggal dari haknya untuk memiliki dokumen kependudukan,” ujarnya.
Persatuan Indonesia diwujudkan melalui NIK yang menjadi identitas tunggal, menyatukan seluruh warga dalam satu basis data kependudukan yang kokoh dan tepercaya.
Semangat Kerakyatan hadir melalui inovasi digital dan akses layanan inklusif, sementara nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tecermin dalam kesadaran bahwa setiap warga adalah ciptaan Tuhan yang berhak diakui keberadaannya.
Tak kalah penting, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tampak dalam penghormatan terhadap martabat setiap individu, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Dengan demikian, penerbitan dokumen kependudukan bukan sekadar layanan administrasi berupa pendaftaran dan pencatatan sipil, melainkan jaminan hak-hak dasar warga negara. “Inilah cara Dukcapil menghidupkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” demikian Teguh menegaskan.
Kesempatan baik di Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa tugas Dukcapil bukan hanya mencatat data, tetapi menjaga martabat bangsa melalui identitas yang sah. Dengan semangat integritas, profesionalisme, dan inovasi, Dukcapil berkomitmen menjadikan pelayanan Adminduk sebagai garda terdepan pengamalan Pancasila menuju Indonesia Emas 2045. Dukcapil***

Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar