Jakarta — Informasi tentang shio, dari sudut pandang demografi dan kedukcapilan bukan lagi narasi mistis/horoskop. Sebaliknya, Shio atau sistem astrologi Tionghoa yang menggunakan 12 simbol hewan itu menjadi analisis berbasis data kependudukan, tren kelahiran, dan karakteristik generasi.
Hal ini terungkap dalam acara Rilis Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II Tahun 2025, yang dipaparkan Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (12/3/2026) sore menjelang waktu berbuka puasa.
Dirjen Teguh mengungkapkan, berdasarkan klasifikasi shio, jumlah penduduk terbanyak berada pada Shio Tikus: 25.348.923 jiwa; Shio Kelinci: 25.112.854 jiwa; dan Shio Naga: 25.021.878 jiwa. Sementara shio dengan jumlah paling sedikit adalah Shio Kambing sebanyak 22.571.729 jiwa.
Dari sudut pandang demografi dan kedukcapilan, pengelompokan penduduk berdasarkan Shio sebenarnya adalah cara kreatif untuk melihat kohort (kelompok usia) berdasarkan tahun kelahiran.

Secara demografi, jumlah besar pada Shio tertentu menunjukkan puncak kelahiran pada tahun-tahun spesifik. Misalnya Shio Tikus (25,3 juta), ini mewakili mereka yang lahir pada tahun 1960, 1972, 1984, 1996, 2008, dan 2020. Angka tertinggi di sini mencerminkan populasi Gen Z dan Milenial yang sedang berada di usia produktif.
Untuk Shio Kelinci & Naga, masing-masing sebanyak 25,1 dan 25,0 juta, mengikuti tepat di belakangnya. Ini menunjukkan konsistensi angka kelahiran pada periode tahun yang berdekatan (misalnya 1996 ke 1999 atau 2008 ke 2012).
Secara kedukcapilan, data ini menunjukkan tingkat tertib administrasi yang sangat tinggi. Angka ini hanya bisa muncul jika data tanggal, bulan, dan tahun lahir penduduk sudah terdigitalisasi dengan baik dalam database SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan).
"Dukcapil kini mampu melakukan data mining bukan hanya berdasarkan NIK, tapi juga variabel budaya (seperti Shio) untuk memetakan struktur penduduk secara lebih luwes," ulas Dirjen Teguh Setyabudi.
Bagi pemerintah, data ini membantu memprediksi kapan lonjakan permintaan layanan publik akan terjadi, seperti pembuatan KTP-el perdana (saat shio tersebut menginjak usia 17 tahun) atau pendaftaran sekolah.
"Shio Tikus dan Naga mencakup rentang usia produktif yang besar saat ini, kelompok ini menjadi penyumbang utama Bonus Demografi Indonesia. Mereka adalah penggerak ekonomi sekaligus target utama kebijakan ketenagakerjaan," demikian Dirjen Teguh Setyabudi memberikan analisanya. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar