Jakarta — Pemerintah pusat tampaknya melirik Tegal sebagai laboratorium uji coba digitalisasi layanan kependudukan. Rencananya bukan main-main: mulai dari akta kelahiran yang bisa diurus serba digital, penguatan identitas kependudukan digital (IKD), sampai dashboard yang memungkinkan pejabat daerah memantau data warganya secara real time. Wacana ini mencuat saat Wali Kota Tegal Dedi bertemu dengan Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Teguh, ke depan pelayanan Dukcapil tak lagi sekadar soal mempercepat antrean di loket. Yang dia bayangkan adalah proses yang benar-benar berubah wujud jadi digital sepenuhnya. "Lompatan itu serba digitalisasi. Tidak ada yang nulis-nulis. Semuanya nanti by system, terkoneksi, terintegrasi," ujarnya.
Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah akta kelahiran digital. Nantinya data kelahiran dari rumah sakit atau puskesmas bisa langsung nyambung ke sistem Dukcapil, tanpa perlu proses manual berulang-ulang. Teguh bahkan terang-terangan menawarkan Tegal sebagai kota pertama yang mencoba sistem ini. "Kalau memungkinkan, Pak Dir langsung jadi piloting aja. Nanti di Tegal digitalisasi akta lahir," katanya.
PR lama yang belum kelar
Di balik ambisi digitalisasi itu, ternyata Tegal masih punya pekerjaan rumah yang cukup mendasar. Dari total sekitar 224 ribu penduduk wajib KTP, baru sekitar 215 ribu yang sudah melakukan perekaman. Artinya, masih ada kurang lebih 9.000 orang yang belum tersentuh sama sekali.
Angka inilah yang jadi sasaran utama program jemput bola pemerintah daerah. Tapi Teguh mengingatkan, jangan sampai program itu justru salah sasaran, mendatangi orang yang sudah punya KTP-el untuk keperluan dokumen lain, sementara yang belum terdata malah terlewat. "Jemput bola itu bukan sekadar melayani yang sudah punya KTP-el, tapi cari yang belum punya KTP elektronik," tegasnya.
Strategi jemput bola ini akan menyasar kelompok-kelompok yang selama ini sulit dijangkau, termasuk pelajar. Targetnya cukup ambisius: cakupan perekaman KTP-el di Tegal diharapkan tembus 99 persen sebelum tahun ini berakhir.
Digitalisasi ini juga menyentuh cara pemerintah daerah membaca kondisi warganya. Lewat dashboard kependudukan, pemda bisa melihat langsung, bahkan sampai level kelurahan, wilayah mana yang cakupan perekamannya masih rendah.
Direktur PIAK, Muhammad Nuh Al-Azhar, menjelaskan bahwa dashboard semacam ini membantu pemda tak lagi bergantung pada laporan administratif yang biasanya telat. Dengan data yang terus diperbarui, mereka bisa langsung menentukan daerah mana yang perlu didatangi lebih dulu untuk program jemput bola.

Percepatan IKD di Tegal
Selain urusan KTP-el, penguatan Identitas Kependudukan Digital juga jadi topik pembahasan. Sayangnya, capaian aktivasi IKD di Tegal baru sekitar 6,6 persen—masih di bawah rata-rata nasional yang sudah mencapai 10 persen.
Untuk mengejar ketertinggalan ini, Tegal akan mendapat dukungan penerapan IKD Plus, sistem yang memungkinkan proses aktivasi dan verifikasi cukup dilakukan lewat ponsel. "Sekarang cukup pakai ini saja. Semuanya bisa dari genggaman," kata Teguh.
Menuju ekosistem layanan yang saling terhubung
Semua rencana ini sebenarnya bagian dari visi yang lebih besar: menghubungkan akta kelahiran, KIA, KK, KTP-el, dan IKD dalam satu ekosistem yang juga terintegrasi dengan berbagai lembaga lain yang butuh data kependudukan.
Teguh mengaku mengapresiasi langkah-langkah yang sudah diambil Pemkot Tegal, meski menurutnya program ini baru saja diluncurkan. Harapannya, apa yang dikerjakan Wali Kota Dedi Yon bisa jadi sorotan secara nasional. "Saya apresiasi yang sudah dilakukan inovasi. Tapi terkait digitalisasi ini kan baru di-launching. Biar apa yang dilakukan Pak Wali langsung terlihat secara nasional," katanya.
Jadi, ke depan Tegal bukan cuma dikejar target angka perekaman KTP-el. Kota ini juga tengah disiapkan sebagai semacam proyek rintisan untuk model pelayanan Dukcapil generasi baru, yang lebih digital, saling terhubung, dan mengandalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar