Desa Robo — Jalan menuju Desa Robo bukan jalan yang ramah, karena berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, salah satu titik yang paling sulit dijangkau di antara wilayah terdampak gempa Flores. Desa ini adalah perkampungan terpencil di Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat. Dari Labuan Bajo, perjalanan menempuh lebih dari 80 kilometer dan memakan waktu hampir tiga jam, melewati jalur berkelok ekstrem menyusuri perbukitan, dengan variasi jalan hotmix dan sebagian rusak berbatu, begitu mendekati kawasan pegunungan Flores.
Ke tempat itulah Tim Tanggap Bencana Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri bergerak, Selasa (25/8/2026). Dipimpin Sekretaris Ditjen Dukcapil, Hani Syopiar Rustam, rombongan berangkat mulai pukul 08.00 WITA. Namun, lantaran jarak tempuh yang cukup jauh, di perjalanan, mobil rombongan sempat mengantre BBM di pom bensin selama lebih dari 1 jam.
Harap maklum, karena membeludaknya kendaraan pengantar bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke berbagai pelosok daerah di Tanjung Bunga—atau Cabo de Flores dalam bahasa Portugis—mau tak mau harus mengantre di SPBU. Apalagi, harga BBM di tingkat pengecer melonjak tinggi, berkisar antara Rp25.000 bahkan mencapai Rp40.000 per botol/liter akibat terbatasnya pasokan pascabencana gempa. Walhasil, Sesditjen Hani dan tim baru bisa membuka posko layanan administrasi kependudukan pada pukul 12.00 WITA, di tengah kampung yang bangunannya masih menyisakan kerusakan cukup parah akibat rangkaian gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores.

Langkah jemput bola ini mendesak dilakukan mengingat kondisi sekitar 1.320 jiwa warga Desa Robo yang terdampak cukup parah. Sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan parah hingga retak-retak. Hal ini membuat sebagian besar warga Robo, sejak gempa terjadi, memilih tidur di luar rumah atau di tenda darurat, karena trauma dan kekhawatiran gempa susulan yang masih terjadi hingga saat ini lebih dari 7 ribu kali. Ke tengah kondisi itulah tim Dukcapil datang, bukan menunggu warga turun gunung ke kantor pelayanan, tapi menjemput langsung ke titik yang selama ini nyaris tak tersentuh layanan publik.
Selain mengurus dokumen kependudukan, rombongan menyerahkan bantuan sembako kepada Kepala Desa Robo, Rafael Gatur, untuk sedikit meringankan kebutuhan harian warga yang masih bertahan di pengungsian. Tak cukup sampai di situ, Kasubdit Keamanan Informasi Adminduk pada Direktorat Integrasi Data Kependudukan Nasional (IDKN), Mensuseno, serta tim teknis yang bertindak sebagai agen juga melakukan layanan pendaftaran Perlinsos. Tak kurang, sejumlah 69 KK antusias dan berhasil mendaftar Perlinsos Digital.

Hani mengatakan, langkah menyisir hingga ke desa setinggi dan seterpencilnya Robo ini sesuai arahan Menteri Dalam Negeri dan Dirjen Dukcapil, agar tidak ada warga yang haknya terabaikan hanya karena tempat tinggalnya jauh dari jangkauan. "Sesuai arahan Bapak Mendagri dan Bapak Dirjen Dukcapil, kami tidak menunggu warga datang, melainkan jemput bola hingga ke tingkat desa. Petugas hadir membawa peralatan rekam portable agar masyarakat Desa Robo yang kehilangan KTP-el atau dokumen lainnya bisa langsung terlayani di tempat. Seluruh layanan ini kami pastikan cepat, mudah, dan gratis, serta dokumen langsung diterima warga," kata Hani di sela layanan di Kecamatan Welak.
Berdasarkan data rekapitulasi hingga pukul 17.45 WITA, layanan di Desa Robo mencatat penerbitan 145 dokumen kependudukan, terdiri dari perekaman KTP-el baru bagi 36 jiwa, pencetakan KTP-el 102 keping, penerbitan kartu keluarga 3 lembar, dan aktivasi Identitas Kependudukan Digital untuk 4 pemohon. Dengan tambahan ini, total dokumen yang diterbitkan tim gabungan Ditjen Dukcapil dan Dinas Dukcapil Kabupaten Manggarai Barat selama dua hari pelayanan tanggap bencana mencapai 503 dokumen, capaian yang terbilang tidak mudah mengingat medan yang harus ditembus tim di hari kedua ini.

Hani menuturkan, kelancaran layanan di lapangan tidak lepas dari dukungan perangkat internet Starlink dan alat rekam portabel yang sudah disiagakan sejak hari pertama, perangkat yang menjadi andalan justru di wilayah dengan sinyal dan akses jalan seburuk Robo. "Guncangan gempa mungkin merusak infrastruktur, tetapi pelayanan publik kependudukan tidak boleh berhenti. Kami ingin memastikan warga memiliki kembali dokumen identitasnya agar kemudahan akses bantuan sosial maupun pemulihan pascabencana lainnya berjalan lancar," ujarnya.
Bagi warga Robo, kedatangan tim Dukcapil pagi itu barangkali sekadar urusan mencetak ulang kartu identitas. Namun, di tengah kampung yang jalan masuknya saja butuh perjuangan tiga jam, kehadiran itu berarti satu hal sederhana, negara masih ingat mereka ada di sana.
Tim Peduli Bencana Ditjen Dukcapil akan terus melanjutkan penyisiran ke desa-desa dan posko pengungsian lain di Kabupaten Manggarai Barat, agar seluruh warga terdampak bisa terlayani. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar