Jakarta — Direktur Kepatuhan PT Visionet Internasional (OVO), Teddy Leo, menyampaikan apresiasi atas dukungan data kependudukan Dukcapil dalam menyukseskan perkembangan bisnis OVO yang sangat pesat sejak terintegrasi dengan data kependudukan Dukcapil sejak 11 Juni 2020. Testimoni ini disampaikan dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan Lembaga Pengguna Pusat, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Menurut Teddy, validitas dan integritas data kependudukan menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan pengguna terhadap layanan OVO. “Dengan dukungan data kependudukan yang akurat, OVO dapat memastikan proses verifikasi identitas berjalan cepat, aman, dan sesuai regulasi,” ujarnya.
Hal ini, lanjutnya, sangat penting dalam ekosistem layanan keuangan digital yang mencakup e-money, pembayaran, transfer, top-up, investasi, hingga pinjaman. "Dukcapil membantu OVO menjaga kepatuhan terhadap regulasi sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna," kata Teddy di hadapan lebih 1.000 hadirin yang memadati Ballrom Hotel Pullman Central Park.
Manfaat NIK, Face Recognition, dan IKD
Teddy menegaskan bahwa pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan (NIK), face recognition, dan Identitas Kependudukan Digital (IKD) memberikan nilai tambah besar bagi OVO.
- NIK memastikan setiap pengguna OVO terverifikasi secara tunggal dan sah, sehingga mencegah duplikasi akun dan memperkuat sistem Know Your Customer (KYC).
- Face recognition mendukung autentikasi biometrik yang lebih aman, mempercepat proses verifikasi transaksi, serta melindungi pengguna dari potensi penyalahgunaan identitas.
- IKD membuka peluang integrasi layanan digital yang lebih luas, memungkinkan OVO menghadirkan ekosistem keuangan yang terhubung langsung dengan identitas digital resmi negara.
“Ketiga instrumen ini membuat layanan OVO lebih inklusif, aman, dan terpercaya. Dukcapil telah menjadi mitra strategis dalam mendukung inovasi kami,” jelas Teddy.
Sinergi Dukcapil–OVO Sejak 2020
Dalam sesi berbagi pengalaman, Teddy menyoroti sinergi kerja sama antara Ditjen Dukcapil Kemendagri dengan OVO sejak 2020 yang berdampak luar biasa, tidak hanya bagi OVO tetapi juga masyarakat luas.
Sebelum integrasi dengan data kependudukan Dukcapil, proses pendaftaran pengguna OVO dilakukan secara manual dan memakan waktu hingga 10 menit. “Pengguna harus menunggu verifikasi, sementara kami juga waswas dengan akurasi data. Setelah terintegrasi dengan Dukcapil, proses verifikasi hanya butuh 2 menit,” ungkapnya.
Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, penetrasi pengguna OVO melonjak hingga 70–80 persen dalam dua tahun berikutnya. Integrasi data kependudukan menjadi faktor penting dalam mendukung lonjakan tersebut, sekaligus memperkuat keamanan transaksi digital.
“Sebelum integrasi, banyak modus penipuan yang merugikan masyarakat. Setelah terhubung dengan Dukcapil, data semakin akurat dan benar sehingga risiko penipuan dapat diminimalisir,” tambah Teddy.
Teddy menegaskan bahwa integrasi data kependudukan berperan besar dalam memperluas basis pengguna, memperkuat sistem keamanan, dan mendukung inovasi layanan. “Keberhasilan OVO dalam lima tahun terakhir tidak lepas dari kolaborasi dengan Dukcapil. Data kependudukan memungkinkan kami menghadirkan layanan yang inklusif, tepercaya, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Rakornas Dukcapil 2025 menjadi momentum penting bagi OVO untuk menegaskan komitmen kolaborasi lintas lembaga.
Teddy menekankan bahwa sinergi antara sektor publik dan swasta adalah kunci dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional. “Dengan data kependudukan sebagai fondasi, kami percaya layanan keuangan digital akan semakin mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutup Teddy. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar