Jakarta – Jiwa pekerja dan berpikir inovatif tiada henti menjadi ciri khas dari insan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri).
Lembaga yang dinahkodai Prof. Zudan Arif Fakrulloh selaku Direktur Jenderal ini kini memang sedang getol menciptakan berbagai inovasi untuk mempermudah dan mempercepat layanan Administrasi Kependudukan (Adminduk).
Tak puas dengan inovasi tanda tangan digital, Zudan telah menyiapkan revolusi pelayanan Adminduk lainnya. Ia mengaku telah menugaskan jajarannya untuk mendesain mesin pencetak dokumen kependudukan layaknya mesin ATM di perbankan.
“Pak David Yama (Direktur Pendaftaran Penduduk) sedang saya tugasi untuk mendesain model ATM itu. Kalo ATM itu dipencet-pencet keluar duit, besok Dukcapil punya ATM dipencet-pencet keluar dokumen kependudukan,” kata Zudan di acara Penutupan Bimbingan Teknis (Bimtek) Bagi Pejabat Daerah Di Bidang Pendaftaran Penduduk di Jakarta, Minggu (03/02/2019).
Konsekuensinya, kertas-kertas khusus yang saat ini digunakan untuk penerbitan berbagai dokumen kependudukan akan digantikan dengan kertas biasa.
Sebab, pengecekan keasliannya menjadi sangat mudah, sehingga penduduk bisa mencetaknya kapan dan dimana saja.
“Ke depan, kertas-kertas yang kita buat akta, yang cakep-cakep itu, suatu ketika akan digantikan dengan kertas biasa. Dulu kan belum online ngeceknya susah, kalau sekarang asli atau palsu tinggal ketik NIK-nya. Dulu kita gunakan kertas sekuriti karena ngeceknya sulit,” jelasnya.
Terkait dengan ATM Dukcapil, Zudan mengaku mendapat inspirasi dari pelayanan publik di India.
Saat menghabiskan waktu mempelajari sistem Adminduk di sana, Zudan menyaksikan langsung bagaimana mudahnya warga India mengurus dokumen kependudukannya.
“Pada waktu saya belajar di sana, saya berbincang dengan warga setempat minta contoh KTP-nya. Dia bilang we don’t have electronic id. Terus gimana? Ternyata bisa print sendiri kalau butuh, dia datang ke satu tempat lalu menunjukan KTP-nya ke saya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zudan juga berencana merevolusi pelayanan Adminduk. Ia ingin kantor Dinas Dukcapil tidak ramai orang tetapi seluruh pengurusan Adminduk dapat tuntas. Hal itu dapat dilakukan melalui digitalisasi layanan.
“Saya berharap betul suatu hari nanti kantor kita itu tidak ada lagi pemohon yang datang ke kantor. Kantor kita sepi tapi layanan Adminduk bisa selesai,” pungkasnya. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.