Jakarta - Dewan Pengurus Korpri Nasional (DPKN) bertekad setiap bulan ada rombongan Gampang Umroh Bareng Korpri (GUBK) yang berangkat ke Tanah Suci.
Kali ini jamaah GUBK Kloter ke-5 dipimpin Amirul Umroh Ketua Umum DPKN Prof. Zudan Arif Fakrulloh berangkat dari Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kota Tangerang, Banten, Ahad (19/01/2020). Prof Zudan yang juga Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri ini berangkat ditemani istri tercinta, Ny. Ninuk Triyanti Zudan Arif Fakrulloh.
"Insya Allah kita berangkat ke Tanah Suci, saya yang menemani rekan-rekan semua sampai dengan saat kita kembali ke Tanah Air. Nanti mohon berkenan Mas Bima sebagai Sekjen DPKN Korpri melepas keberangkatan kita. Insya Allah, Allah merahmati kita semuanya meridhoi dan memudahkan langkah kita menuju Tanah Suci, selama di Tanah Suci dan perjalanan pulang ke Tanah Air. Semua diganti ridho Allah berupa umroh yang mabrur," ujar Prof Zudan saat upacara pelepasan jamaah GUBK.
Sekretaris Jenderal DPKN Dr. Ir. Bima Haria Wibisana yang hadir memberi arahan dan sekaligus melepas rombongan jamaah GUBK, menyebutkan bahwa keberangkatan rombongan GUBK sebetulnya test case dari Korpri bagi penyelenggara GUBK untuk membuktikan bahwa program ini asli bukan KW.
Bima yang juga Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) ini mengungkapkan banyak sekali pegawai negeri sipil (PNS) yang akan melakukan ibadah umroh itu trauma karena banyak dari mereka yang tertipu penyelenggara umroh abal-abal.
"Jadi para Pengurus Korpri di kementerian/lembaga serta pemda silakan datang ke kantor GUBK, silakan cek betul atau tidak. Mudah-mudahan ini bisa mengikis keraguan-raguan dari temen-teman Korpri semua," kata Bima Haria seraya menambahkan bahwa saat ini Rombongan GUBK ke-5 yang berangkat.
"Jadi sudah ada 4 rombongan yang berangkat umroh sebelumnya. Paling tidak satu bus yang berangkat setia bulannya," ujarnya.
Bima juga menjelaskan menjadi amirul umroh akhir bulan Nopember 2019, kloter ke-4.
"Hotelnya masih sama berada mepet dengan area Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Kalo ke halaman mesjid satu langkah saja. Kalo melihat Kabah-nya tentu masih harus jalan kaki sekitar 800 meter, karena areal Masjidil Haram yang sangat luas. Kira-kira 10 menit jalan kaki," tuturnya memberi gambaran.
Jadi kalau mau shalat tepat waktu, kata dia, minimal jamaah harus siap 10 menit sebelumnya.
"Sehari bolak balik itu 800 meter dikali dua, kali lima waktu solat itu sekitar 8 kilometer kita jalan kaki setiap hari. Jadi lumayan berolahraga dan Insya Allah kita jadi makin sehat," ujarnya.
Di Madinah juga begitu. Hanya saja, sambung Bima Haria, di Masjid Nabawi tidak seleluasa di Mekkah karena terutama untuk jamaah wanita itu tempat ibadahnya terpisah, pintu masuknya pun berbeda. "Jadi kalau ada jamaah suami istri, perlu janjian ketemuan di pintu mana. Atau diikhlaskan saja ibu-ibunya berangkat bareng rombongan," katanya.
Pada akhir sambutannya, Bima mendoakan para jamaah mendapatkan umroh yang mabrur, dan insya Allah menjadi ahli surga karena salah satu ganjaran umroh adalah surga. "Ganjaran haji atau umroh mabrur itu hanyalah surga. Semoga Ibu dan Bapak tetap sehat walafiat selama menjalankan ibadah umroh dan kembali ke Indonesia dengan selamat," ujarnya memungkasi. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.