Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan pemenang Pilpres 2019 yakni paslon nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin. Bagi Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tugas besar mengawal hajatan besar demokrasi Pemilu 2019 ini sudah hampir tuntas. Tugas selanjutnya yang menanti adalah ketika diundang dan diperlukan oleh Majelis Hakim di Mahkamah Konstitusi menjadi saksi terkait gugatan sengketa hasil Pilpres dari paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno.
Demikian disampaikan Dirjen Dukcapil Prof. Zudan Arif Fakrulloh pada acara silaturahmi buka puasa bersama segenap keluarga besar pegawai Ditjen Dukcapil sekaligus memperingati Nuzulul Quran di kediaman Dirjen Dukcapil, Perumahan Taman Kota, Bekasi, Selasa (21/5/2019).
Tak lupa Prof. Zudan mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada seluruh aparatur Dukcapil yang telah bekerja tak kenal lelah tak kenal libur demi menyukseskan Pemilu 2019.
"Terima kasih kerja keras teman-teman Dukcapil mengawal Pemilu ini yang betul-betul membutuhkan kesabaran. Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya: 'Innallaha ma'ashobirin'. Allah bersama orang-orang yang sabar, semoga kita termasuk di dalamnya," ujar Prof. Zudan di hadapan ratusan pegawai Ditjen Dukcapil yang hadir.
Di balik kesabaran itu, Prof Zudan juga mengajak aparatur sipil negara (ASN) Ditjen Dukcapil untuk selalu bersyukur. Sebab, selama 4 tahun berjalan banyak hal yang sudah dibenahi. Dengan digitalisasi database kependudukan sudah semakin akurat karena berbasis single identity number. Setiap penduduk hanya memiliki satu nomor induk kependudukan (NIK), satu alamat dan satu identitas Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el).
Ditjen Dukcapil juga mempelopori penerapan digital signature atau tanda tangan elektronik untuk mengurus dokumen kependudukan secara online. Bahkan database kependudukan digital seperti data biometrik sidik jari yang dikembangkan Dukcapil sudah bisa dimanfaatkan untuk memudahkan dan mempercepat layanan publik termasuk pencegahan kejahatan dan terorisme melalui teknologi face recognition atau pemindai wajah.
"Bahkan respons masyarakat yang masuk melalui whatsapp yang langsung ke Dirjen Dukcapil, Call Center maupun lewat media sosial, mulai menunjukkan hal yang positif dan semakin membaik. Ini yang perlu kita syukuri bersama bahwa kesabaran kita membuahkan hasil yang baik," kata Prof. Zudan.
Mengelola database kependudukan sebanyak 265 juta penduduk tentu bukan pekerjaan yang mudah dan sederhana. Administrasi kependudukan (Adminduk) yang akurat adalah hal kunci bagi sebuah negara. "Bila Adminduknya bagus maka tata kelola pemerintahannya akan menjadi semakin baik, karena penduduknya terdata dengan jelas by name by address. Itulah tugas mulia kita," ucap Prof. Zudan.
Terkait Pilpres 2019, Prof Zudan juga mengaku bersyukur bahwa paslon nomor 02 Prabowo-Sandi adalah negarawan sejati karena memilih jalur konstitusional guna menyelesaikan sengketa pemilu. "Ini kita syukuri karena akan memberikan warisan jejak digital yang baik bagi generasi penerus bahwa kita bangsa yang besar menyelesaikan persoalan ketatanegaraan sesuai dengan koridor demokrasi dan konstitusi," kata dia. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.