Sleman - Kebahagiaan keluarga adalah harta yang paling berharga. Tak ada pernak-pernik dunia yang mampu melampaui kesenangan dan ketenteraman keluarga.
Prihatin melihat kondisi warga desanya, Sri Lestari, pemilik rumah 'Batik Allussan' di Desa Jodag, Kecamatan Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kemudian melatih para ibu membatik.
"Selama ini banyak warga desa Jodag terutama kepala keluarganya pergi ke kota untuk mencari penghidupan. Bukan sehari-dua, kaum pria Jodag merantau ke kota lain mencari rezeki meninggalkan keluarga dalam hitungan minggu bahkan bulanan. Walhasil, pendidikan anak dan perhatian terhadap keluarga jadi terbengkalai. Rejeki yang dibawa pulang pun tak seberapa besar," cerita Sri di hadapan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri saat melakukan field trip edukasi ke rumah "Batik Allussan" di Sleman, Ahad (8/9/2019).
Dengan mengajarkan ibu-ibu dusun membatik, Sri Lestari tidak merekrut perajin dari luar. Dia membangun sistem kemitraan dengan tetangga di sekitar rumahnya. Dia pun mengajarkan remaja setempat mendesain motif batik. Tak lupa Sri mengajak para lelaki yang tadinya merantau agar pulang membantu keluarganya membatik. Tugas kaum pria adalah mewarnai kain batik yang sudah bermotif dan diberi 'malam'.
Sistemnya, anggota kemitraan yaitu warga binaannya yang berhimpun kembali dalam keluarga utuh mengambil bahan baku berupa mori yang sudah digambar motif, serta alat-alat membatik seperti canting dan malam dari Sri. Kemudian mereka membatik di rumah masing-masing.
Begitu rampung, mereka menyerahkan hasilnya kepada Sri Lestari. Para pekerja diberi upah untuk setiap lembar batik, tergantung tingkat kerumitan motif. Menurutnya, konsep ini merupakan bentuk gotong royong dalam memajukan perekonomian warga di sekitar.
Dengan cara ini Sri menciptakan kawasan 'industri desa' berbasis batik. Sri memang menetapkan standar tinggi kualitas batiknya agar mampu menembus pasar kelas atas.
"Prinsip saya target pasar tidak boleh setengah-setengah. Kalau menengah atas, harus menengah atas sekalian, jangan menyerempet ke menengah bawah juga," tuturnya.
Ia menambahkan, memang konsekuensinya kualitas batik harus memenuhi keinginan pasar tersebut, yang cenderung berselera tinggi.
Dengan metode ini, Sri meneruskan usaha batik keluarga yang sempat terhenti pada 1970-an, saat sang Ibu memutuskan berhenti membatik lantaran hasilnya tak sesuai harapan dan tak bisa diandalkan. Melalui PT Batik Allussan milik keluarga, Sri mampu bertahan menghadapi persaingan.
Ia mampu membuktikan, bisnis kain tradisional ini bisa menjadi sumber penghidupan bagi dirinya bahkan bagi kebanyakan warga binaan di desanya. Berkat kerja keras, usaha yang dirintis sejak Maret 2005 itu sukses. Nama Sri Lestari pun populer di Dusun Jodag, Sleman.
Berkat binaan instansi terkait, termasuk Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) DIY, Sri kemudian menembus sejumlah pasar luar negeri antara lain Jepang, Jerman, Belanda, Australia. Di Asia Tenggara, batik karyanya disukai warga kelas atas Singapura, Manila dan Brunei Darussalam. Belum lagi pasar negara Timur Tengah sangat menanti karya batik halus produk Allussan asal Jodag.
Lantaran membidik kelas menengah ke atas, Sri Lestari pun membuka galeri batik berbahan cotton, sutera, pakaian jadi di sejumlah mall dan hotel, yaitu di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Galeria Mall Yogyakarta, Hotel Santika Yogyakarta dan Slipi Jakarta, dan Hotel Melia Purosani Yogyakarta.
Sri memang mewarisi keahlian membatik dari ibu dan neneknya. Kecintaan pada batik pulalah yang mendorongnya memulai kembali bisnis batik yang pernah terhenti sekaligus memperdayakan tetangga sekitar dusun. Hingga pada tahun 2015, PT Allusan Batik berhasil meraih penghargaan produktivitas Paramakarya dari Presiden Joko Widodo.
Ketua DWP Ditjen Dukcapil Ninuk Triyanti yang memimpin rombongan menyatakan, kegigihan Sri membangun kembali bisnis keluarga tadi sangat menginspirasi. "Peran ibu dalam membangun ketahanan keluarga ini sangat fundamental. Bagaimanapun kebahagiaan keluarga harus dibangun seluruh anggota keluarga. Bu Sri Lestari memberikan contoh yang sangat baik untuk anggota DWP semua," demikian Ninuk Triyanti Zudan Arif Fakrulloh. Dukcapil***
Komentar
Komentar di nonaktifkan.