Jakarta — Hubungan baik yang sudah lama terbina tak mungkin terlupa begitu saja. Itu lah suasana hangat pertemuan Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan (BTIIK), Kementerian Keuangan, Suryo Utomo dengan Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi di Ruang Rapat Dennis Ritchie, BTIIK Lt. 4, Gedung J.B. Sumarlin, Jakarta Pusat, Kamis (4/9/2025).
Pada kesempatan itu, Dirjen Dukcapil didampingi Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Muhammad Nuh Al Azhar sementara Suryo Utomo juga didampingi sejumlah pejabat tinggi BTIIK beserta jajaran.
Suryo sebelumnya menjabat sebagai Dirjen Pajak sudah memahami betul manfaat data kependudukan untuk kelancaran penyelenggaraan tata kelola perpajakan. "Bahkan penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) berfungsi sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bertujuaN untuk mempermudah proses bisnis dalam pelayanan kepada wajib pajak," kata Suryo Utomo.
Suryo menjelaskan, BTIIK sebagai unit strategis di bawah Kemenkeu sangat berkepentingan untuk dapat memanfaatkan data kependudukan, antara lain untuk analisis risiko dan kepatuhan perpajakan, pemetaan potensi penerimaan negara. "Bisa juga untuk mendeteksi dini terhadap transaksi mencurigakan atau manipulasi identitas," kata Suryo.
Dirjen Teguh Setyabudi juga mengaku telah mengenal Suryo sejak lama. "Saya mengenal beliau sekitar 5 tahun lalu. Kini sebagai Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan yang keren, tapi yang lebih keren lagi adalah kepala badannya," kata Teguh berseloroh.
Teguh menjelaskan, bahwa pihaknya mengelola data kependudukan yang jumlahnya per Semester I Tahun 2025 mencapai 286,6 juta jiwa by name by address. "Big data kependudukan ini dikelola melalui sistem Adminduk (SIAK) yang menyatukan sistem di 514 kabupaten/kota menjadi terpusat di 3 server data center Kemendagri, yaitu di Medan Merdeka Utara, Kalibata dan Data Recovery Center di Batam, Kepri," jelas Teguh.
Data kependudukan Dukcapil telah dimanfaatkan secara luas untuk verifikasi dan validasi data oleh 7.094 lembaga pusat dan daerah yang bekerja sama dengan Kemendagri. Hingga 15 Juli 2025, total akses data kependudukan oleh lembaga pengguna sebesar 17.653.617.681 klik atau lebih 10 juta klik per hari.
Untuk memperkuat data center yang sudah ada, Teguh mengungkapkan pihaknya dengan dukungan Bank Dunia tengah membangun Primary Data Center (PDC) terbaru di Kampus IPDN Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta. "Kampusnya cukup luas tapi kami hanya menempati satu gedung di situ tapi sangat memadai untuk menjadi PDC," kata Teguh.
Direktur PIAK Muhammad Nuh ikut menjelaskan bahwa data Dukcapil berawal dari kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil melalui perekaman biometrik KTP-el, pencatatan biodata, KK dan pencatatan akta lahir, mati, kawin dan cerai serta pindah datang maupun pembuatan dokumen kependudukan lainnya.
"Pada saat perekaman KTP-el ada data demografik misalnya nomor induk kependudukan (NIK), nama, alamat dan tempat tanggal lahir, dan data biometrik yaitu sidik jari, irish mata dan foto wajah. Semua itu masuk dan tercatat dalam big data kependudukan dalam data center sebagaimana dijelaskan Pak Dirjen tadi," jelas Nuh.
Ia menambahkan, data kependudukan tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan pelayanan publik. Dukcapil***
Komentar
Tidak ada komentar.
Kirim Komentar