Ditulis Pada 06 Agustus 2018 17:03 WIB

Etiopia dan Plan Internasional Belajar Sistem Adminduk di Indonesia

Jakarta – Hari Rabu (01/08/2018) lalu, Dirjen Dukcapil Prof. Zudan Arif Fakrulloh kedatangan tamu istimewa dari delegasi organisasi internasional Plan Internasional Indonesia dan negara sahabat Etiopia. 

 

Kedua delegasi bertandang ke Ditjen Dukcapil untuk belajar dan mendapatkan pengalaman tentang bagaimana Indonesia mengelola penduduknya melalui penyelenggaraan Administrasi Kependudukan (Adminduk). 

 

Delegasi Etiopia diwakili 6 orang. Mereka adalah Abadi Amdu (Interim Country Director), Edom Fikru (Head of Influencing, Parthnership and Communication), Zeru Fantaw (Child Protection Country Program Lead/Interim Head of Programs), Esayas Woldegiorgis (Director General VERA), Hemid Kinisso (Vice Director General VERA), dan Solomon Getachew (IT Director VERA).

 

Sedangkan dari Plan Internasional Indonesia hadir 5 orang, yaitu Dini Widiastuti (Executive Directur), Sigit Wacono (Child Protection Advisor), Dwi Rahayu (Program Director), Linda (Communication Director), dan Yulia Hana (Security Specialist). 

 

Dalam paparannya Prof. Zudan, menyampaikan bahwa agenda besar kebijakan Adminduk di Indonesia adalah bagaimana Ditjen Dukcapil Kemendagri mengendalikan penyelenggaraan Adminduk dari daerah hingga ke tingkat nasional. 

 

Daerah hingga pusat, menurut Prof. Zudan, berada dalam satu garis lurus dan satu komando. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan pun satu dan sama di seluruh Indonesia.  

 

“Kami memiliki 23 output layanan Adminduk, yang terdiri dari 22 outpun dalam bentuk dokumen kependudukan dan satu output berupa data kependudukan. Dokumen kependudukan berupa KTP-el, KK, KIA, dll”, jelas Prof. Zudan dalam bahasa Inggris. 

 

Terkait data kependudukan, Zudan mengatakan bahwa data kependudukan di Indonesia digunakan oleh semua kementerian/lembaga, di antaranya untuk perencanaan pembangunan dan pelayanan publik. Data kependudukan tersebut diperoleh dari hasil pelayanan Dinas Dukcapil di daerah. 

 

“Ketika orang merubah alamat tinggal, ketika orang pindah keluar dan pindah datang, sampai ketika ada orang yang menikah, yang melahirkan, yang meninggal, kami akan menerbitakan dokumen kependudukannya”, lanjut Zudan. 

 

Selain itu, Zudan juga memaparkan beberapa perubahan kebijakan dalam layanan Adminduk di Indonesia. Di antaranya terkait layanan Adminduk yang semula menganut stelsel aktif dari masyarakat, menjadi stelsel aktif dari pemerintah maupun dari masyarakat. 

 

"Semua layanan Adminduk di Indonesia adalah gratis, tidak dipungut biaya apapun”, lanjutnya. 

 

Selain layanan gratis, Zudan juga memaparkan kebijakan pelayanan dokumen kependudukan maksimal 1 jam serta masa berlaku KTP-el yang tidak dibatasi atau KTP-el seumur hidup.

 

“Tidak ada pembatasan masa berlaku KTP-el, kecuali ada perubahan elemen data kependudukan”, pungkasnya. 

 

Selain Prof. Zudan, Sekretaris Ditjen Dukcapil dan para Direktur juga hadir memberikan paparan terkait penyelenggaraan Adminduk sesuai dengan tugasnya. 

 

Sekretaris Ditjen Dukcapil I Gede Suratha memaparkan terkait struktur organisasi dan fungsi-fungsi yang dijalankan oleh Ditjen Dukcapil melalui Sekretariat dan Direktorat. 

 

Lalu, Direktur Pendaftaran Penduduk David Yama memaparkan terkait kebijakan pendaftaran penduduk dan output pelayanan pendaftaran penduduk. 

 

Selanjutnya, Direktur Pencatatan Sipil Arief Moelia Edie memaparkan penyelenggaraan pencatatan sipil di Indonesia yang melalui cakupan kepemilikan Akta Kelahiran dan berbagai manfaatnya, kebijakan dan strategis pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengangkatan anak, pengakuan anak, dan pengesahan anak.

 

Sementara Direktur Bina Aparatur Dukcapil Joko Moersito juga berkesempatan menyampaikan paparannya. Joko Moersito memaparkan terkait kewenangan Ditjen Dukcapil untuk membina SDM aparatur Adminduk di daerah maupun di pusat. 

 

Terakhir, Direktur Fasilitasi Pemanfaatan Data dan Dokumen Kependudukan (FP2DK) Gunawan memaparkan kebijakan pemanfaatan data kependudukan, lembaga pengguna yang memanfaatkan data kependudukan, contoh-contoh kasus pemanfaatan data kependudukan dalam berbagai bidang (terorisme, pesawat hilang, kapal tenggelam, dll). 

 

Setelah pemaparan dilakukan, Prof. Zudan membawa delegasi ke ruang Call Center dan Galery Ditjen Dukcapil. Peserta delegasi terlihat antusias mengamati berbagai hal terkait perkembangan penyelenggaraan Adminduk di Indonesia. Dukcapil***