Ditulis Pada 27 Desember 2017 15:43 WIB

Ditjen Dukcapil Fasilitasi Pengembangan Kompetensi ASN

Jakarta – Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrullah mengaku bersemangat dan sangat senang ketika membuka kegiatan Fasilitasi Pengembangan Kompetensi Pegawai di Lingkungan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Hotel Cipta Jakarta, Rabu (27/12/2107).

 

Kegiatan ini diikuti para Pejabat Administrator dan Pengawas yang beberapa waktu lalu dilantik dalam jabatan baru di Ditjen Dukcapil. Hadir pula Sekretaris Ditjen Dukcapil I Gede Suratha. 

 

Semangat dan rasa senang itu ia ungkapkan dengan memberi apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk mengurangi gap kompetensi bagi setiap ASN sehingga dalam bekerja tidak menemui kendala dan masalah berarti. 

 

“Saya memberikan apresiasi setiap kita menyadari selalu dalam setiap titik dan setiap tahapan kita bekerja itu memahami yang namanya gap kompetensi”, ujar Prof. Zudan. 

 

Gap kompetensi, menurut Prof. Zudan, adalah kesenjangan yang terjadi di setiap titik-titik baru atau setiap tahapan-tahapan baru di dalam peran kerja. Gap kompetensi itu juga ada dalam setiap level jabatan yang diemban ASN. 

 

Setidaknya, ada dua penyebab munculnya gap kompetensi menurut Prof. Zudan. 

 

“Pertama, gap kompetensi bisa terjadi karena seseorang pindah dalam jabatannya”, kata Prof. Zudan. 

 

Untuk menghindari itu, perlu dilakukan Pendidikan dan Pelatihan bagi setiap ASN sesuai dengan level jabatan yang diembannya. 

 

“Diklatpim I, Diklatpim II, dan seterusnya untuk mempersiapkan seseorang duduk dalam jabatannya. Ada juga Diklat Teknis, ada Diklat Pimpemdagri, ada Diklat bagi kepala daerah”, lanjutnya.

 

Namun, Prof. Zudan menyadari hal itu belum menyentuh setiap ASN. 

 

“Oleh karena itu, sebenanrnya setiap unit yang memiliki pegawai baru dalam jabatan barunya itu harus ada yang namanya pelatihan internal di unit eselon II. Itu wajib sebenarnya untuk pemahaman agar setiap pejabat baru tidak ada gap kompetensi”, pungkas Ketua DPN Korpri in. 

 

Yang kedua, gap kompetensi bisa juga terjadi karena adanya kebijakan baru.

 

“Maka perlu sosialisasi. Seperti seminar, diskusi itu penting sekali”, tutur mantan Plt. Gubernur Gorontalo ini.

 

Dirjen Dukcapil optimis akan mampu mengurangi gap kompetensi yang ada di lembaga yang dipimpinnya melalui ragam kegiatan peningkatan dan pengembangan kompetensi. 

 

“Nah, gap kompetensi ini bisa kita kurangi secara sistematis, secara berkelanjutan bila kita mempunyai peta kompetensi yang baik”, tutup Prof. Zudan. Dukcapil***