VISI

Tertib Administrasi Kependudukan dengan Pelayanan Prima menuju Penduduk Berkualitas Tahun 2015

MISI

  1. Mengembangkan kebijakan dan sistem serta menyelengarakan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil untuk menghimpun data kependudukan, menerbitkan identitas dan mensyahkan perubahan status dalam rangka mewujudkan tertib administrasi kependudukan.
  2. Mengembangkan dan memadukan kebijakan pengelolaan informasi hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil sehingga mampu menyediakan data dan informasi kependudukan secara lengkap, akurat dan memenuhi kepentingan publik dan pembangunan.
  3. Mengembangkan pranata hukum, kelembagaan serta peran serta masyarakat yang mendukung proses pendaftaran penduduk, pencatatan sipil dan pengelolaan informasi kependudukan guna memberikan kepastian dan perlindungan sesuai hak-hak penduduk.
  4. Merumuskan kebijakan pengembangan kependudukan yang serasi, selaras dan seimbang antara jumlah/pertumbuhan, kualitas serta persebaran dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.
  5. Menyusun perencanaan kependudukan sebagai dasar perencanaan dan perumusan pembangunan nasional dan daerah yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan penduduk.
Artikel Kependudukan
Senin, 28 Juni 2004
Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Peringatan Hari Keluarga Nasional XI tahun 2004

Saudara-saudara Menteri,
Saudara-saudara Gubernur dan Bupati/Walikota,
Ketua DPRD, dan para Anggota MUSPIDA Provinsi Kalimantan Timur,
Hadirin yang Berbahagia,

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua

Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu, kita bersama-sama memperingati Hari Keluarga Nasional. Kita memperingati Hari Keluarga Nasional setiap tahun, karena kita menyadari pentingnya peranan keluarga bagi kehidupan kita, bagi anak-anak kita, serta bagi masyarakat dan bangsa kita.

Kita memang mengambil saat bergabungnya kembali pejuang-pejuang kemerdekaan kita yang dahulu berjuang di sekitar Yogyakarta --Ibukota Perjuangan Bangsa kita saat itu-- dengan keluarga mereka, sebagai momentum untuk memperingati Hari Keluarga Nasional. Selama Perang Kemerdekaan, para pejuang kita harus meninggalkan keluarganya untuk waktu yang tidak menentu. Banyak diantara mereka dan keluarga mereka yang tidak mengetahui keselamatan dan keadaan masing-masing. Tetapi berkat perjuangan para pejuang kemerdekaan dan berkat pengorbanan keluarga mereka itulah, bangsa kita berhasil menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Bangsa kita tumbuh dan hidup sebagai bangsa yang terhormat, sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.

Sekarang kita mengenang kembali peristiwa penting itu, dan mempertebal tekad untuk melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia yang adil, makmur dan demokratis. Kita memperingati Hari Keluarga Nasional untuk mempertebal tekad melanjutkan cita-cita mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera, keluarga yang sakinah dan mawadah.

Kita semua tahu, jalan kearah itu tidak selalu mudah dan cepat. Perjuangan panjang yang kita tempuh melalui pembangunan selama tiga dasawarsa terakhir ini, juga belum sepenuhnya mampu mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua keluarga Indonesia. Kita masih harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat mewujudkannya.

Sebagai satuan terkecil dalam tatanan masyarakat, keluarga adalah pangkalan utama dalam kehidupan manusia. Dalam lingkungan keluarga pula, anak-anak tumbuh dan memperoleh bekal awal sebelum masuk dalam pergaulan masyarakat. Kenyataan juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat, sejahtera dan bahagia, berikutnya berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Karenanya tidaklah salah bilamana kualitas keluarga akan menentukan kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia di masa depan.

Namun demikian, untuk membangun keluarga-keluarga yang sejahtera itu diperlukan kesungguhan dan perhatian yang lebih besar dari kita semua. Hal ini penting, karena dihadapan kita terbentang berbagai hambatan dan tantangan yang tidak ringan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, di satu sisi memang membuat kehidupan kita bertambah mudah.

Hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya kian dapat dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang sangat singkat. Hubungan antar bangsa juga terus bertambah intensif. Dunia bahkan kian terasa bagai tanpa batas. Umat manusia seolah-olah hidup dalam satu masyarakat besar, masyarakat dunia. Pengaruh nilai-nilai baru yang muncul, menjadi sulit terbendung dalam dunia serasa makin menyempit dan makin terbuka tadi.

Perubahan lain juga melanda masyarakat kita. Terjadi pergeseran nilai yang dinamik ketika pola dan budaya agraris sedikit demi sedikit terdesak oleh nilai-nilai yang lazim berkembang dalam masyarakat industri. Di satu sisi, perkembangan tersebut menampilkan kekuatan pendorong kemajuan. Tetapi di sisi lain, kita juga menyaksikan berlangsungnya proses melonggarnya ikatan kekeluargaan. Penghargaan terhadap sistem nilai keluarga, salah satu ciri penting dari masyarakat kita, kian meluntur.

Tidak ada satu bangsa pun yang mampu menghindar dari perubahan-perubahan tadi berikut pengaruh yang ditimbulkannya, termasuk terhadap kehidupan bangsa kita. Oleh sebab itu, bagaimana memperkuat sendi-sendi dasar yang menopang nilai-nilai kehidupan kita, akhirnya merupakan masalah yang perlu diberi perhatian utama dan untuk pertama-tama harus dibangun dalam keluarga.

Dalam keluargalah pada awalnya kita membangun dan memperkuat basis moral, karakter, dan kepribadian seluruh anggota keluarga khususnya anak-anak kita. Kita melakukannya dengan maksud agar mereka mampu membentengi diri dan keluarga dari pengaruh ekstemal yang kurang menguntungkan. Dengan bekal itu pula kita berusaha menepis atau meminimalkan ekses dari pengaruh perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan dunia.

Karena pemikiran itu pula saya mengajak kita semua untuk terus membekali moral, karakter dan kepribadian anak-anak kita dengan nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai kesejarahan dan wawasan kebangsaan kita. Semua itu penting untuk meningkatkan ketahanan pribadi anak-anak kita dan ketahanan keluarga-keluarga kita. Hanya dengan ketahanan yang tinggi, keluarga-keluarga Indonesia akan menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi perubahan-perubahan tadi. Hanya keluarga-keluarga yang sehat, sejahtera dan bahagialah yang memiliki ketahanan yang tinggi.

Saudara-saudara yang saya hormati.

Kita jelas gembira bahwa kemajuan-kemajuan yang kita capai sampai saat ini tidak saja telah berhasil meningkatkan kemampuan keluarga dalam masyarakat bangsa kita, tetapi juga menjadikan keluarga-keluarga kita makin sedikit jumlah anggotanya. Sosok keluarga dalam masyarakat kita cenderung semakin menjadi keluarga-keluarga yang kecil.

Format keluarga seperti itu terasa kian ideal, karena lebih memungkinkan dioptimasikannya potensi dan sumberdaya yang tersedia dalam mewujudkan kesejahteraan. Dalam kaitan ini, saya kembali minta perhatian kita semua, terhadap pembangunan di sektor keluarga berencana. Program-program di sektor ini harus kita tingkatkan dan terus kita masyarakatkan.

Meskipun kewenangan di sektor ini telah dilimpahkan kepada pemerintah di daerah, pembangunan di sektor keluarga berencana ini hendaknya tidak dibiarkan mengendor. Sebaliknya, kita justru harus terus menghidupkan semangat untuk membangun keluarga yang kecil, sehat, sejahtera dan bahagia. Dalam kaitan ini, saya minta kepada para Gubernur, Bupati dan Walikota untuk memberikan perhatian yang semestinya kepada masalah keluarga berencana di daerah masing-masing.

Marilah kita galakkan lagi semangat dan kegiatan keluarga berencana dalam kehidupan nasional kita. Kepada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, saya minta untuk memberi tuntunan kebijakan, dorongan dan bimbingan kepada pemerintah di daerah dalam penyelenggaraan program-program dan kegiatan keluarga berencana ini di tengah masyarakat. Ajaklah semua kalangan, termasuk para tokoh dan pemuka masyarakat kita.

Saya juga minta para Gubernur, Bupati, dan Walikota untuk bersama-sama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menyusun program dan kegiatan di bidang ini. Bagaimanapun, masalah kependudukan, seperti halnya dengan kesejahteraan dan ketenteraman masyarakat, sesungguhnya merupakan urusan pangkal yang paling mendasar dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Demikianlah Saudara-saudara beberapa pesan saya dalam peringatan Hari Keluarga Nasional tahun ini. Mudah-mudahan, segala ikhtiar dan usaha yang kita lakukan dalam rangka membangun keluarga Indonesia yang sejahtera, selalu memperoleh tuntunan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Terima kasih,
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Balikpapan, 28 Juni 2004
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


TTD
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Artikel Kependudukan Lainnya
Jumat, 09 Januari 2009
Permasalahan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) bukan merupakan hal baru bagi bangsa Indonesia. Yan (2004) mengatakan bahwa sejak era 1970-an, permasalahan ini menduduki posisi teratas. Selama 35 tahun, permasalahan TKI tidak mengalami perkembangan yang berarti. Rumitnya permasalahan ini melibatkan banyak faktor baik dalam (Indonesia) maupun luar negeri (Malaysia).
Jumat, 09 Januari 2009
Perjalanan reformasi sudah memasuki tahun kesepuluh, dan tuntutan mendasar dari reformasi juga salah satunya memperbaikan pelayanan publik yang selama ini sangat bobrok dan banyak diskriminasi didalamnya di masa Orde Baru. Pelayanan Publik diartikan sebagai, pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah
Kamis, 08 Januari 2009
Mobilitas penduduk merupakan bagian integral dari proses pembangunan secara keseluruhan. Mobilitas telah menjadi penyebab dan penerima dampak dari perubahan dalam struktur ekonomi dan sosial suatu daerah.
Kamis, 08 Januari 2009
Ungkapan “al-jannah tahta aqdam al-ummahat” (surga di bawah telapak kaki ibu) sangat populer di telinga kita dan dipercaya bahwa itu merupakan ajaran semua agama.
Kamis, 08 Januari 2009
Slogan diatas sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut. Terutama, hal ihwal mengenai cengkeraman kemiskinan massal di tengah badai bencana ditambah makin sulitnya situasi ekonomi.
Senin, 28 Juni 2004
Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu, kita bersama-sama memperingati Hari Keluarga Nasional. Kita memperingati Hari Keluarga Nasional setiap tahun, karena kita menyadari pentingnya peranan keluarga bagi kehidupan kita, bagi anak-anak kita, serta bagi masyarakat dan bangsa kita.
Kamis, 24 Juni 2004
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat sehat dan kesempatan, sehingga kita dapat hadir di sini dalam rangka pembukaan Pameran Hari Keluarga Nasional (Harganas) Tahun 2004 di Kota Balikpapan, Kaltim.
Selasa, 30 Maret 2004
Mengawali pertemuan silaturahmi ini, pertama-tama ijinkanlah kami mengajak Saudara-saudara sekalian untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas taufik dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul untuk memperingati ulang tahun terbentuknya Ditjen Administrasi Kependudukan yang ke 2 tanggal 28 Maret 2004.
Jumat, 11 Juli 2003
Dalam rangka memperingati Hari Kependudukan Sedunia, bertepatan tanggal 11 Juli 2003 Departemen Dalam Negeri menyelenggarakan seminar sehari - Memantapkan Kebijakan Penataan Persebaran Penduduk di Era Otonomi Daerah - dengan tema Mobilitas Penduduk dalam Era Otonomi Daerah yang Menjamin Persatuan dan Kesatuan
Minggu, 13 Oktober 2002
Konstitusi mengamanatkan, bahwa negara berkewajiban memberikan pengakuan, jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum kepada penduduknya. Disamping itu, negara juga berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada penduduk, serta memfasilitasi hak penduduk untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi bagi pengembangan diri dan lingkungan sosialnya.
Copyright © 2002 - 2011, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA, Jakarta, Indonesia